Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Tak lama lagi masyarakat Surabaya dimanjakan pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soewandhi dan Bhakti Dharma Husada (BDH). Inovasi pelayanan ini ada dua  yang akan digarap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Yakni, Radioterapi di RSUD dr Soewandhi dan Kedokteran Nuklir di BDH.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita, mengatakan, pembaharuan pelayanan ini secepatnya direalisasikan. Meskipun sebelumnya radioterapi dan kedokteran nuklir sudah pernah diterapkan di RSU dr Soetomo. Namun, seiring berjalannya waktu pelayanan itu sudah tidak ada.

“Ada beberapa rumah sakit, seperti Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL), Adi Husada, yang menerapkan sistem pelayanan radioterapi. Tetapi untuk Kedokteran nuklir hanya ada di empat kota besar di Indonesia,” katanya.

Ia memastikan, inovasi tersebut sengaja disiapkan untuk melayani warga Surabaya. Meski sebelumnya RSU dr Soetomo juga pernah memiliki pelayanan itu. “Tidak perlu khawatir, kami terus berupaya untuk melayani masyarakat yang terbaik,” jelasnya.

Setelah melakukan rapat dengan Wali Kota Risma, ia mengaku langsung menggelar koordinasi dalam pembentukan tim pelayanan kedokteran nuklir dan radioterapi tersebut. Masing-masing tim terdiri dari akademisi, dokter, kepolisian, dan dinas yang terkait.

“Kami sengaja bergerak cepat, supaya setelah pembentukan tim ini mereka dapat bekerja semaksimal mungkin,” paparnya.

Fenny menargetkan, proyek ini dapat selesai 2020 mendatang. Sehingga semua persiapan dilakukan sejak saat ini. “Mudah-mudahan 2020 kelar dan bisa beroperasional, untuk pembangunan ruangan nanti bisa berkoordinasi dengan Dinas Cipta Karya,” jelasnya.

Sementara, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Hendrig Winarto, mengatakan, pihaknya siap mendukung penuh dua program yang dilakukan Pemkot Surabaya ini. “Sebenarnya nuklir itukan banyak manfaatnya. Bisa digunakan energi bauran, termasuk kedokteran nuklir,” katanya.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, meminta dukungan penuh kepada pihak terkait untuk mewujudkan dua pelayanan itu.

Bahkan, keseriusan ini sudah dirapatkan dengan pertemuan yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota, dihadiri akademisi dari berbagai universitas dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Senin, (16/9) siang.

“Saya berharap para dokter untuk membantu pelayanan itu. Terus terang saya kasihan para pasien penyakit kanker yang menunggu antrian untuk radioterapi terlalu lama,” ujar Wali Kota Risma.

Ia menjelaskan, para pasien penderita penyakit kanker selama ini menunggu antrian untuk radioterapi kurang lebih minimal 4 – 6  bulan. Sebelum itu, mereka hanya rawat jalan dan terapi pada umumnya. Karena itu kemudian pihaknya tergerak untuk menciptakan inovasi pelayanan radioterapi. Hal ini mengingat jumlah rumah sakit di Surabaya yang menyediakan pelayanan tersebut hanya beberapa.

“Nanti sangat membantu para pasien, kalau perlu ruangannya didesain berbeda agar tidak seperti di rumah sakit. Mari kita bantu mereka bersama-sama,” terangnya. (ton)