Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Semangka masih menjadi potensi unggulan warga Desa Bangorejo Kecamatan Srono.
Komuditas ini sudah dikembangkan petani setempat sejak puluhan tahun silam.
Salah satu kawasan yang menjadi sentra penanaman semangka berada di Dusun Umbulharjo Desa Bangorejo Kecamatan Srono Banyuwangi. Belum lama ini, petani setempat melakukan panen raya. Luas lahan pengembangan budidaya semangka di kawasan ini mencapai 135 hektar. Dengan produksi 20 ton per hektar.

Saat ini, hasil panen semangka dikirim ke berbagai daerah, seperti Jakarta, Jawa Tengah/Jateng, NTB dan Kalimantan. “Ini bukti hasil kerja keras petani kita. Saya bangga petani Banyuwangi sudah mandiri dan sejahtera,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, yang hadir mengikuti kegiatan proses panen raya.

Saat ini, kata dia, di Banyuwangi terdapat 1.500 hektar lahan sawah yang ditanam semangka. Sentra semangka ini tersebar di beberapa kecamatan, seperti Srono, Muncar dan Banyuwangi kota. Untuk meningkatkan pendapatan petani semangka Anas, menyarankan agar petani semangka mulai menggarap produk turunan semangka.
”Petani harus masuk ke sektor hilir dengan menggarap produk turunan. Misalnya, membuat olahan minuman semangka. Sebagian sudah melakukan, namun, harus terus didorong. Sehingga pendapatan petani semangka lebih baik,” ucapnya.

Ketua Kelompok Tani Dusun Umbulharjo, Suherman, menambahkan, menjadi sentra pengembangan semangka di wilayah Kecamatan Srono. Bahkan, petani setempat sudah menanam semangka sejak 1996. Saat ini, semangka menjadi tanaman utama warga desa setempat. Tak heran, jika petani di kawasan ini bisa panen semangka hampir sepanjang tahun.

Dalam setahun, petani bisa melakukan panen empat kali. Dengan kapasitas produksi 20 ton per hektar. Saat musim panen raya, harga semangka mencapai Rp 1.500 per kilogram. “Sekali panen, petani bisa mendapat Rp 30 juta per hektarnya. Sementara beaya produksi Rp 15 juta,” ucapnya. (tin)