Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sejumlah perusahaan investasi yang berasal dari Inggris menyatakan tertarik untuk memperbanyak investasinya di sektor jasa keuangan terutama yang berhubungan dengan green financing dan menunjang pencapaian program pembangunan berkelanjutan.

Fakta menariknya mungkin, melebarkan peluang untuk menarik para investor asing melakukan investasi, terutama di bidang infrastruktur menjadi daya tarik sendiri. Tak heran, sebab kurangnya dana pemerintah untuk pembangunan infrastruktur menjadi salah satu alasan untuk menarik investor asing menanamkan modalnya di Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan ketertarikan investor asal Inggris ini, disampaikan saat pertemuan “United Kingdom Financial Services Dialogue 2019,” yang dihadiri Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins serta puluhan investor dan jajaran eksekutif pasar keuangan Inggris.

Owen Jenkins juga menjelaskan bahwa Inggris sudah memposisikan diri sebagai negara mitra bagi Indonesia untuk berkolaborasi dalam green finance, Islamic finance, fintech dan berbagai insitiatif penting lainnya di pasar keuangan.

Sampai 2019, indikator “perekonomian hijau” di Indonesia tumbuh cukup signifikan dengan total green loans di 133 miliar dolar AS (Rp 1,850 triliun), pengeluaran akumulatif green bonds 169 juta dolar AS dan pengeluaran green sukuk Pemerintah 2 juta dolar AS.

Wimboh Santoso mengakui, bahwa kondisi perekonomian Indonesia serta sektor jasa keuangan berada dalam kondisi yang stabil dan terjaga termasuk untuk menghadapi kondisi pelambatan perekonomian global.

OJK menurut Wimboh bersama Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk merespons tantangan-tantangan eksternal dengan berbagai kebijakan yang antisipatif, di antaranya Pemerintah meluncurkan berbagai tax incentives untuk menarik investasi masuk ke Indonesia dan Bank Indonesia sendiri telah menurunkan suku bunga sebanyak 50bp ke level 5.5 persen dalam dua bulan terakhir untuk antisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

“OJK berkerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah baik pusat maupun daerah, Kadin, Apindo dan pelaku di industri keuangan untuk pengembangan sektor unggulan, yakni Pariwisata, Manufaktur, Pertambangan, Agribisnis dan Perikanan. Pengembangan sektor unggulan ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor dan substitusi impor, membuka lapangan kerja dan meningkatkan tax based,” jelas Wimbo.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Inggris hanya berada di peringkat 14 sebagai negara penyumbang investor riil terbesar ke Indonesia. Namun, banyak prinsipal perusahaan asal Inggris yang meminta afiliasinya atau anak usahanya di negara lain seperti di Singapura untuk berinvestasi ke Tanah Air. “Jadi jangan hanya berpatokan ke data di BKPM. Tapi juga kita harus liat potensi investasi dari Inggris,” tandas pengamat ekonomi Slamet Riyadi.

Maka dari itu, IIIF 2019 di London dan Paris, kedepan, lanjut Slamet, menjadi sarana penyebaran informasi mengenai peluang investasi langsung bagi penanam modal asing di proyek infrastruktur Indonesia dalam lima tahun ke depan atau hingga 2024.(ton)