Kok Bisa, Bom-bom Ikan Dijual Bebas

8

Surabaya (bisnissurabaya.com) – PANTAS saja Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan,  yang biasa berbicara cespleng itu jadi naik pitam. Kali ini, dia mengungkap keheranannya, karena bom-bom ikan ternyata bisa dijualbelikan secara bebas. Masalahnya, bom-bom demikian berbahan baku mesiu. Tidak bedanya dengan bom-bom yang dipergunakan teroris.

Dia memperbandingkan demikian ketika dalam acara penandatanganan nota kesepahaman Selasa (10/9) antara Kementeriannya dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Susi berharap agar BNPT dan Polri  dapat terlibat  untuk pencegahan hukum, agar bom-bom ikan tidak diperjualkan secara bebas. “Saya berharap Polri/BNPT masuk kedalam situ, karena bom yang dipakai itu merusak karang. Saya tidak habis pikir kenapa bom ikan boleh diperjualbelikan,” katanya ditujukan kepada pihak BNPT.

Menurut Susi, penggunaan bom ikan itu telah merusak terumbu karang dan biota laut lainnya. Katanya, sama saja dengan tindakan radikalisme yang dilakukan teroris, karena  kedua-duanya sama-sama membuat kerusakan. Menurutnya, selain penggunaan bom-bom ikan, satu kelompok atau sepuluh orang nelayan, biasanya menggunakan 3 kilogram pil konsentrat potasium sianida yang bisa menangkap ikan hingga 300 kilogram. Penggunaan 1 gram potasium sianida, dapat merusak 6 meter persegi terumbu karang di laut. Sianida tersebut biasanya untuk menangkap ikan hias. “Bisnis ikan hidup di Indonesia yang terdata oleh Karantina tidak lebih dari Rp 400 miliar, ikan hias kurang lebih Rp 100 miliar. Tetapi kerusakan yang ditimbulkan, potensi yang hilang, begitu besar,” kata Menteri Susi Pudjiastuti.

Ada baiknya kita ketahui apa reaksi Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius. Lembaganya akan memetakan dan menelusuri tata niaga bom ikan, termasuk tujuan penggunaannya. “Kalau perlu dibuka jaringannya ke mana saja, apa penggunaannya, sehingga bisa tahu persis . Jangan main-main dipakai, apalagi untuk sesuatu yang destruktif.” kata Suhardi.

Di Jawa Timur, terjadi beberapa kasus mencolok dalam penggunaan bom-ikan. Di Jatim, nama bom-ikan itu  lebih lazim disebut “bom bondet” atau “bondet”.  Meskipun yang menjadi kasus yang harus ditangani pihak Kepolisian setempat adalah penyalahgunaan bondet,– namun entah bagaimana hasilnya, karena tidak tersiarkan secara luas. Masalahnya, berita yang menarik perhatian adalah bondet bukan untuk membunuh ikan atau merusak terumbu karang. Tetapi  untuk membakar rumah atau kendaraan bermotor milik lawan bisnis, atau karena dendam atau lawan poltiiknya. Caranya, bom-ikan dilemparkan ke rumah lawannya pada malam hari. Kejadian macam itu terjadi di kabupaten Pasuruan, kabupaten Situbondo dan beberapa daerah lainnya yang ada di sepanjang pantai Selat Madura. Sedangkan apakah ada nelayan yang ditangkap Polisi sewaktu membom ikan, berita tentang ini “sepi-sepi” saja. Apalagi berita ditangkapnya para pembuat bom ikan. Terkecuali beberapa kali berita  sipembuat atau juga berikut anggota keluarganya ikut meledak saat membuat bondet!

Sebenarnya, untuk dapat menelusuri siapa pembuat bom-itu dan di mana pembuatannya, bagi pihak Kepolisian tidaklah sulit. Asalkan tindakan demikian diintensifkan. Dapat dan cukup diserahkan kepada Kepolisian Sektor (Polsek) setempat. Terutama di daerah-daerah yang berada di sepanjang pantai Selat Madura, Pantai Selatan (Samodera Hindia) dan juga pantai utara (Laut Jawa). Kalaulah penyelidikan dan kemudian tindakan tidak bisa dilakukan oleh aparat Polsek bersangkutan, kiranya bisa menjadi catatan Polda Jatim. Mengapa tidak mampu? Atau, adakah sesuatu yang berkaitan dengan pembuatnya?

Kita meyakini kemampuan aparat Kepolisian saat ini dan ke depan, karena selain insannya berdasar pendidikan sesuai dengan persyaratan untuk menjadi anggota Kepolisian, juga  pelajaran teknik kepolisian selama menjadi anggota Kepolisian itu.

Kini akan ikut campur BNPT. Pembuatan atau pengadaan bom ikan itu menjadi urusan bersifat politis dan keamanan nasional kita. Yakni perbuatan terorisme. Kiranya mungkin baru sekarang ini masalah pembuatan dan penggunaan bahan-bahan peledak yang bisa mematikan maupun merusak harta benda itu dan yang jelas merugikan perorangan maupun Negara, bisa dikurangi. Adalah lebih penting lagi, pembuatan dan penggunaan bom ikan itu dimasukkan dalam hukum-pidana yang mana guna dilakukan tindakan dan penuntutan hukumnya. Pembuatnya bila perlu bisa diseret dalam kasus terorisme, karena bom-bom tersebut melebihi dahsyatnya dibanding jenis bom-bakar atau “bom molotov”.  Sebaiknya kita tunggu aktivitas BNPT dan Kepolisian menumpas pembuatan maupun penggunaan bom ikan alias bondet itu. (amak syariffudin)