Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Kuda lumping. Kesenian tradisional ini masih digandrungi arek-arek Jawa Timur/Jatim. Yang menarik, kuda lumping yang biasa disebut jaran kepang ini selalu dikaitkan dengan kesenian horror. Karena dalam rangkaian pertunjukan jaran kepang selalu ada pemain yang kesurupan dan makan beling.

Sebelum memulai atraksi, biasanya, pemain jaranan baik wanita dan pria selalu merias wajahnya dengan kumis atau lukisan wajah lainnya. Tak jarang, mereka melakukan ritual atau membaca doa khusus. Karena tarian tradisional ini dikenal dengan hal mistis yang sangat kuat.

Saat ini, pemain jaran kepang tidak hanya orang dewasa saja. Tetapi, banyak juga remaja bahkan anak-anak juga ikut serta dalam kesenian tersebut. Seperti yang dilakukan gadis remaja asal Gresik ini. Yaaa…, namanya Nadya. Ia mengaku sudah mengikuti kesenian jaran kepang sejak usia 14 tahun. “Saya mengikuti jaran kepang karena keinginan sendiri dan alhamdulillah orang tua juga sangat mendukung,” kata Nadya, yang berparas cantik ini pada bisnissurabaya.com, di Surabaya Senin (9/9) pagi.

Anak pertama dari pasangan Wilujeng dan Samsul ini melatih hobi nya di sebuah sanggar. Yakni, Sanggar Pranajara Lakar Budaya di kawasan Lakarsantri Surabaya. Ia antusias, saat mengikuti latihan bersama teman-temannya. Tak jarang, gadis 16 tahun ini bersama teman-temannya menerima panggilan untuk acara tertentu.

Wanita yang sudah menginjak remaja ini mengaku dalam satu bulan bisa dua kali panggilan pertunjukkan untuk nari jaran kepang bahkan lebih. Apalagi, saat acara di suatu desa seperti, sedekah bumi, festival dan lainnya.

Penghasilan yang bisa mereka dapatkan juga tak sedikit, yaitu mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta dalam satu kali panggilan. Setelah itu, sebagian uang nya dibagi rata kepada pemain jaranan dan sebagian lainnya disimpan untuk keperluan sanggar.

Hobi yang dilatih dengan senang hati mengantarkan Nadya bisa mengikuti lomba di beberapa daerah. Bahkan ia pernah mengikuti lomba kesenian Jaran Kepang tingkat provinsi. “Jadi orang seni itu walau tidak ┬ákemana-maa tapi selalu ada dimana-mana”. Itulah yang sering dikatakan remaja cantik asal kota Pudak ini tentang kesenian tradisional yang ia ikuti. (fania)