Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pertunjukan spektakuler dipersembahkan Premiere School of Ballet. Musikalisasi balet dipertontonkan secara apik dan berkolaborasi dengan Yayasan Pembinaan Anak Cacat/YPAC dalam penggarapan koreo di Ciputra Hall Surabaya Jum’at (6/9). Perpaduan dua tampilan ini menciptakan sebuah visualisasi pertunjukan balet yang sangat memukau.

Selalu meninggalkan kesan memuaskan dan menghibur penonton, seperti itulah sajian persembahan gelaran balet yang dipersembahkan Sylvi Panggawean. Sosok wanita yang satu ini, lagi-lagi menyajikan gelaran spektakuler tak hanya menghadirkan siswa-siswanya. Dalam gelaran kali ini PSoB mengajak anak-anak dari YPAC untuk berkolaborasi dalam alur cerita.

Owner Premiere School of Ballet (PSoB), Sylvi Panggawean, menerangkan melalui kolaborasi ini, dirinya ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak YPAC dan saling menginspirasi, memotivasi semangat satu dengan yang lain. Serta mengulurkan tangan dan sedikit membantu untuk kelangsungan pengembangan pembinaan di YPAC Surabaya.
Cerita yang diangkat dalam pergelaran balleylt ini adalah ”The Red Shoes” yang diadaptasi dari penulis terkenal Hans Christian Anderson, yang dikoreo PSoB dalam tarian ballet full selama 80 menit, dengan melibatkan sedikitnya 125 murid. Mulai dari usia 3 tahun sampai dewasa. Pemeran utama Sherry dibawakan Melisa Sugianto dan Kevin yang diperankan Michael Wiradinata.

Sylvi Panggawean (Owner PSoB)

The Red Shoes menceritakan tentang hidup sekelompok gypsy yang suka berkelana dan nomaden, dimana hidup mereka sungguh bahagia dipenuhi canda tawa dan tari-tarian. Singkat cerita, permasalahan terjadi ketika Sherry bertekad bulat menukarkan sirkamnya guna mendapatkan point shoes berwama merah yang konon dipercayai bahwa pemakainya pasti dapat menari dengan begitu indah.

Sylvi menambahkan, selain tarian pembuka dari YPAC Surabaya ada juga penampilan capoeira dari Kana Dance Studio Malang dan hip hop dari First Move Crew Surabaya. “Sementara tarian utama The Red Shoes yang diadaptasi dari penulis terkenal Hans Christian Anderson, akan dikemas PSoB dalam tarian ballet full selama 80 menit yang saya koreografer bersama Lie Chen, RAD (T C),” lanjut Sylvi.

Story of The Red Shoes Tarian yang akan ditampilkan sekitar 125 murid PSoB mulai dari usia 3 tahun sampai dewasa ini, menampilkan pemeran utama Sherry. Yaitu, Melisa Sugianto, S.Si, ARAD (24 tahun), dan Kevin yang diperankan oleh Michael Wiradinata (17 tahun). The Red Shoes sendiri menceritakan tentang hidup sekelompok gypsy yang suka berkelana dan nomaden.
Namun demikian, hidup mereka sungguh bahagia dipenuhi canda tawa dan tari-tarian. Sherry dan kelompoknya berkelana ke Perancis untuk menghadiri Festival Gypsy. Sesampainya di lembah di |uar kota Paris, kelompok gypsy yang lelah ini pun terlelap. Dan di tengah malam itu, beberapa tikus liar mencoba mencuri makanan yang tersisa, namun usaha mereka digagalkan oleh tikus sahabat Sherry.
Pagi hari pun tiba. Sekelompok pemuda gypsy tak dikenal yang dipimpin oleh Kevin datang menghampiri kelompok gypsy Sherry. Mereka saling berkenalan dan cinta tumbuh di hati Sherry dan Kevin. Sebagai tanda cinta, Kevin memberi hadiah sirkam untuk Sherry. Selanjutnya, ayah Sherry meminta anaknya untuk mengirimkan pita-pita sepatu penari ke Royal Theatre. Sherry pun berangkat.

Sesampainya di Royal Theatre yang megah, Sheny, masuk perlahan-Iahan dan tak sengaja menemukan studio ballet, dimana Martina, penari nomor satu di Royal Theatre. sedang berlatih. Martina yang menyadari kehadiran Sherry pun marah. Tiba-tiba datanglah pemilik Royal Theatre yang sangat menyayangi Martina. Melihat Sheny hendak keluar studio, sang pemilik menyuruh Sherry untuk menari dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam audisi pementasan ”Swan Lake” beberapa hari mendatang.

Sherry mengiyakan pennintaan tersebut dan meninggalkan Royal Theatre. Dalam perjalanan pulang, Sherry melewati sebuah toko sepatu ballet. Rasa penasaran membawanya masuk. Disanalah terpajang point shoes merah yang memikat Sherry. Si pemilik toko membolehkan Sherry untuk memiliki sepatu itu, asalkan Sherry menyerahkan sirkam yang dipakainya. Dengan rendah hati. Sherry menolak tawaran tersebut, dan meninggalkan toko untuk segera kembali merayakan Festival Gypsy.
Hari audisi Sherry untuk menjadi bagian dari Royal Theatre telah tiba. Berangkatlah Sherry ke kota. Melihat bakat terpendam Sherry dan diterimalah ia menjadi penari di Royal Theatre. Pemilik Royal Theatre menasehati bahwa menari haus menjadi prioritas utama mereka, bukan bersenang-senang, apalagi mencari jodoh.

Kevin yang datang untuk memberi kejutan kepada Sherrry pun tak sengaja mendengarkan kalimat tersebut. Kecewa mendengar persetujuan Sherry terhadap pendapat Pemilik Royal Theatre, Kevin meninggalkan sebuah bunga yang dibawanya dan lalu meninggalkan Royal Theatre hingga Sherry tak bisa mengejamya lagi.
Sherry pun menghabiskan waktunya untuk berlatih dan bedatih. Lelih dan kelaparan, Sherry tertidur di ruang latihan. Tikus sahabat Sherry merasa iba, sehingga mereka membawakannya makanan yang sebenamya adalah milik Martina. Melihat Sherry melahap makanan miliknya, Martina marah besar terhadap Sherry.

Jengkel atas kesombongan Martina, tikus sahabat Sherry mengganggu Martina yang sedang bedatih. Melihat tikus berlarian membuatnya terkejut dan jatuh seketika hingga kakinya terkilir. Pemilik Royal Theatre dan Sherry berusaha membantu Martina, namun cederanya begitu parah, sehingga tidak mungkin Martina bisa menarikan peran Odette dalam waktu dekat. Tak disangka, Sherry ditunjuk untuk menggantikan posisi Martina.
Sepulang berlatih, Sherry melewati toko sepatu ballet yang pemah dikunjunginya. Namun kali ini, Sherry bertekat bulat untuk menukarkan sirkamnya untuk mendapatkan point shoes berwama merah, yang konon dipercayai bahwa pemakainya pasti dapat menari dengan begitu indah.

Hari pementasan pun tiba. Sherry mengenakan red shoes miliknya dan temyata benar. seluruh penonton bersorak gembira karena Sherry menari dengan sangat baik. Namun ketika sedang merayakan kesuksesan pementasan perdana Sherry, muncuuah suatu kendala aneh. Sherry tidak bisa mengendalikan red shoes dari kakinya. Anehnya lagi, sepatu ini seperti memerintahkan Sherry untuk menari tanpa henti. Tidak ada satu pun orang yang bisa membantu Sherry melepaskan sepatu tersebut. Sherry pun terus menari hingga keluar dari gedung Royal Theatre, menelusuri jalan raya, hutan-hutan, hingga sampailah di lembah dimana Kevin sedang berada.

Kelelahan, Sherry meminta bantuan Kevin. Dan karena kekuatan cintalah, red shoes akhimya tedepas. Sherry berterima kasih kepada Kevin dan meminta maaf karena telah mengabaikannya selama ini. Mereka pun bersatu kembali. Anggota-anggota gypsy lainnya pun merayakan kedatangan dan bersatunya Sherry dan kevin dengan gembira. (timothy/stv)