Banyuwangi, (bisnissurabaya.com)- Banyuwangi kaya akan budaya. Salah satunya kerajinan kain tenun Osing. Keunikan corak dan motif tenun Osing ini menarik perhatian desainer muda, Sanet Sabintang. “Tenun Osing ini sangat unik dari segi motif dan coraknya,” kata Sanet Sabintang, kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.
Diakuinya, dirinya adalah pecinta kain tradisional. Bahkan sejauh ini gemar mengoleksi kain tradisional dari berbagai daerah. Di Banyuwangi, kata wanita yang karib sapa Sanet ini, saat ini hanya ada satu pengrajin tenun Osing yang masih bertahan, yakni di Desa Jambesari. “Itupun usianya tak lagi muda,” ungkapnya.

Tak heran, jika keberadaan tenun Osing sudah diambang batas. Perajin tenun Osing yang masih bertahan ini, hanya bisa membuat satu motif. Yakni kluwung. Itupun proses pembuatan per lembar mencapai satu bulan. Dari situ, Sanet tergerak melestarikan tenun Osing ini dengan membuat tenun Osing dengan Alat Tenun Bukan Mesin/ATBM.
“Yang terpenting bagi saya, selamatkan dulu motif kain tenun Osing ini,” ungkapnya.
Motif tenun Osing ini ada tiga. Yakni solok, kluwung dan gedok. Diakuinya, saat ini minimnya generasi muda yang tertarik belajar tenun. “Bahkan pengrajin versi ATBM saya pun orang-orang yang sudah sepuh,” tambahnya.

Saat ini, tenoen osing menjadi brand terbaru Sanet Sabintang. Melalui brand terbaru ini, dirinya getol suarakan, “Save Tenun Osing”. Di galerinya di kawasan Sobo dan Kepiting Tukang Kayu Banyuwangi ini menyediakan kain tenun Osing dalam bentuk lembaran dan dalam bentuk produk jadi.
Tenun Osing ini pertama kali dia hadirkan dalam ajang Yogyakarta Fashion Festival 2019, lalu.

“ Saya tertantang menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam event ini, dengan mengangkat tenun Osing,” ungkapnya.
Selain ajang Yogyakarta Fashion Festival, tenun Osing juga dia hadirkan lewat karya-karya busana rancangannya, dalam ajang Banyuwangi Fashion Festival 2019. “Jika dalam ajang Yogyakarta Fashion Festival hanya mengangkat motif Kluwung, di Banyuwangi Fashion Festival saya hadirkan semua motif,” tandasnya.

Menurut dia, selain memiliki corak dan motif yang khas, bahan kain tenun Osing ini, memberikan kesan etnik kasual dan etnik resmi. Bahkan, peminatnya lumayan banyak, dari luar Banyuwangi. Tak sedikit para fashion desainer tertarik dengan tenun Osing. “Menurut salah satu fashion desainer ternama, tenun Osing bisa menjadi tren Internasional. Dari segi warna dan motif tak lekang di makan zaman,” ucapnya.

Ke depan, Sanet berharap bisa membuka sebuah workshop tenun Osing di Banyuwangi. Sehingga wisatawan yang datang ke Banyuwangi selain bisa membawa oleh-oleh oleh tenun Osing, juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan tenun Osing. “Dan, yang terpenting, menarik generasi muda untuk ikut melestarikan tenun Osing dengan belajar tenun,” pungkasnya. (tin)