Ternyata Kita Kekurangan Biji Kakao

14

Surabaya (bisnissurabaya.com) –  Komoditas produk perkebunan yang satu ini, sering lepas perhatian publik. Terkecuali kalau sudah butuh untuk minuman, kue-kue dan permen, baru ingat.  Itulah kakao alias coklat alias Theobroma cacao l. (bahasa ilmiahnya). Sekarang komoditas tersebut menjadi permasalahan dalam proses perekonomian kita, karena dalam bulan ini muncul ke publik permasalahan yang harus dihadapi oleh industri-industri pengolahan kakao dalam negeri.

Ada 9 dari 20 perusahaan pengolah kakao dalam negeri terpaksa sementara menghentikan kegiatannya, karena kekurangan bahan bakunya, yakni biji kakao. Termasuk tentunya harga biji itu menjadi naik, karena stoknya menipis. Data International Cocoa Organization ICCO), produksi biji kakao Indonesia tahun 2018 adalah 240 ribu ton. Sedangkan kebutuhan bahan baku tersebut oleh industri pengolahannya sebesar 93.802 ton. Sementara itu, kebutuhan lain-lain terhadap produksinya guna dimanfaatkan oleh para pengusaha kecil atau masyarakat.

Karena kekurangan pasokan biji kakao dalam negeri, industri pengolahan kakao melakukan impor biji tersebut. Menurut Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), jumlah impor biji kakao di tahun 2018 mencapai 239.377 ton, atau naik 5,63 persen dari tahun sebelumnya, yakni 226.613 ton. Sedangkan Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI)  mencatat, hingga semester I/2019 impor biji kakako mencapai 128.427 ton, naik 5,63 atau turun 4 persen year-on-year (yoy) yang sebelumnya 134.423 ton. Jadi, pada dasarnya industri-industri kakao masih harus mengimpor biji kakao dari luar negeri. Meskipun di dunia, dari 12 negara pemroduksi biji kakao, kita masuk nomor 3 produksi biji itu sebesar rata-rata 777.500 ton, sesudah urutan teratas Pantai Gading dan Ghana.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Program Pengembangan Industri Minuman, HasilTembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Mogadishu Djati Ertanto, selama melakukan impor biji tersebut dikenakan bea masuk sebesar 5 persen, PPN 10 persen dan PPH 2,5 persen, sehingga jumlah beban pajak untuk industri itu 17,5 persen.  Sedangkan biji kakao impor dari negara-negara ASEAN dibebaskan dari bea masuk sejak berlakunya AFTA. Regulasinya tertuang dalam PMK no. 6/PMK.010/2017 tentang pengenaan tarif bea masuk impor atas biji kakao.

Karena mengatasi kekurangan untuk produksinya, para pengusaha industri pengolahan kakao merasa keberatan atas pajak bea masuk biji kakao sebagaimana diungkapkan mereka ketika diadakan Forum Grup Diskusi Permasalahan Industri Kakao di Indonesia dan Cara Mengatasinya serta Prospek ke Depan tahun 2045 di gedung KADIN di Jakarta (4/9). Mereka mengusulkan bea masuk yang semula 5 persen bisa diturunkan menjadi hanya 1 persen, sementara PPN ditiadakan.  Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia, Pieter Jasman, menyatakan bahwa industri kakao Indonesia semakin tertekan dengan kebijakan Uni Eropa yang menerapkan tarif bea masuk sebesar 4 persen hingga 5 persen untuk produk kakao dari Indonesia. “Akhirnya industri nasional itu tidak berdaya untuk bersaing.” katanya (4/9).

Melejitnya kebutuhan kakao untuk makanan-minuman rakyat kita itu memang jauh hari tidak diperkirakan. Waktu itu, perkebunan pohon kakao yang aslinya dari Amerika Tengah (seperti Meksiko dan lain-lain) dan Amerika Selatan sebagai tanaman daerah tropis. Sampai dengan sekitar sebelum tahun 2000, biji kakao kurang melejit pasarannya. Malahan hasil dari perkebunan yang ditanami kakao oleh para pemilik perkebunan milik Belanda dan Inggeris jauh sebelum Perang Dunia II itu, pernah produknya jatuh di pasaran dalam negeri sendiri. Akan tetapi, kebutuhan dalam makanan-minuman era kemajuan dalam kehidupan masyarakat, menjadikan kebutuhan biji kakao melejit. Jangankan untuk memenuhi ekspor, untuk kebutuhan dalam negeri sendiri masih kurang. Industri-industri pengolahan biji tersebut di provinsi Jawa Timur pun mengalami kesulitan bahan produk itu kalau tidak mempunyai kebun kakao sendiri. Perkebunan demikina kini sebagian besar adalah milik BUMN, yakni PT Perkebunan. Pada hal perkebunan itu memanjang dari kawasan  mulai Madiun hingga ke Banyuwangi, sepanjang pengunungan tengah dan selatan Jatim. Malahan salah satunya, PTP di kelurahan Kandanglembu, Banyuwangi selatan, sudah punya pabrik sendiri untuk memproduksi biji coklat dari bubuk untuk minuman sampai dengan permen coklat. (amak syariffudin)