Kopi Rakyat Menggeliat

13
Kadisperindag Jatim Drajat (kiri)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Siapa tak mengenal minuman kopi? Minuman yang biasa disajikan panas, ketal dan manis ini sangat dikenal di Indonesia. Di Indonesia minuman kopi diminati masyarakat. Mereka menikmati kopi tidak mengenal waktu. Naik pagi, siang, sore, hingga malam hari. Dan minuman berwarna hitam pekat tersebut bisa didapatkan mulai dari warung kaki lima pinggir jalan hingga di café- café kelas atas yang ada di hotel atau mall.

Kondisi geografis Indonesia yang memiliki iklim tropis, menjadi daerah penghasil kopi terbesar di dunia. Provinsi yang menjadi penghasil kopi di Indonesia, antara lain, Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur/Jatim, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Papua.

Dari berbagai provinsi dihasilkan berbagai jenis kopi seperti Gayo Luwes, Samosir, Lintong, Simalungun, Sidikalang, Mandailing, Sipirok, Liberika, Lampung, Prianger, Sindoro Sumbing, Temanggung, Ijen Raung, Kintamani, Dampit, Pupuan, Lombok Prabe, Lombok sembalun, Tambora, Toraja, Pinogu, Flores Bajawa, Flores Manggarai, dan Wamena.

Saat ini Indonesia menjadi negara pengekspor kopi, bersaing dengan Vietnam dan Brazil. Kopi robusta diekspor ke India dan Belanda. Sedangkan kopi Arabica diekspor ke 40 negara, terutama negara Eropa.

Kopi Amstirdam  yang  terkenal di pasar ekspor dunia, bukan berasal dari Amsterdam Belanda. Tetapi berasal dari Kabupaten Malang. Amstirdam sendiri merupakan singkatan dari Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Dampit. Karena dikenal sebagai penghasil kopi robusta dampit, masyarakat di sekitar dampit kian menggeliat secara ekonomi.

Di luar negeri, khususnya di kawasan Eropa, kopi robusta dampit memang sangat terkenal. Menurut beberapa sumber, jenis robusta yang berasal dari kawasan Dampit dianggap mempunyai spesial taste atau rasa spesial. Hal ini karena pohon kopi ditanam dan dibudidayakan di lahan dengan ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan air laut.

Saking terkenalnya merk kopi robusta Dampit, pihak pengekspor bahkan mengambil kopi yang berasal dari daerah lain seperti Aceh dan Lampung yang kemudian dioplos dengan kopi yang berasal dari Dampit yang kemudian diberi label kopi Dampit. Setelah biji kopi disangrai, aroma yang sangat khas bisa tercium terutama saat proses penggilingan. Wangi yang keluar dari biji kopi adalah wangi caramel dan juga manis khas roti yang baru matang. Aroma milk chocolate serta caramel yang ditambah dengan wangi khas kopi yang sangat harus ketika disajikan sebagai coffee drip membuat siapa saja yang mencium baunya ingin segera meminum kopi robusta dampit tersebut. Ketika diminum, kopi ini akan terasa full body atau kekentalan yang penuh ditambah dengan acidity yang rendah dengan sensasi akhir berupa rasa caramel dan sedikit aroma earthy yang terasa serta tercium cukup lama. Jika ditambahkan dengan susu kental manis, maka akan muncul aroma susu coklat yang membuat kopi menjadi semakin gurih.

Jatim menjadi daerah penghasil kopi yang dominan di Indonesia. Hal ini dikarenakan memiliki banyak kawasan perkebunan kopi yang  ada sejak zaman penjajahan  Belanda yang  tersebar di enam kawasan. Yaitu, Ijen-Raung-Argopuro (Kabupaten Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo), Bromo-Tengger-Semeru (Kabupaten Lumajang, Malang, Probolinggo), Kelud (Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang), Wilis (Kabupaten Madiun, Kediri, Trenggalek), Lawu (Kabupaten M agetan, Ngawi) serta Kawasan Pantura (Kabupaten Situbondo dan Probolinggo). Luas areal perkebunan kopi di Jatim  mencapai 99.000 hektare.

Diantaranya dikelola 22 Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Yakni PT Perkebunan Nusantara, 54 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan pihak swasta. Sedangkan sekitar 50.000 hektare dikelola sekitar 100.000 keluarga petani.

Walau memiliki kawasan perkebunan kopi, namun produktivitasnya terbilang rendah. Hanya 500 kilogram per hektare. Hal ini disampaikan Ketua Majelis Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian (PERHEPI), Rudy Wibowo, yang juga Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember. “Selain enam kawasan perkebunan tersebut, Kepulauan Madura juga perlu dikembangkan atau ditata lagi agar budidaya kopi di Jatim semakin meningkat,” kata Rudy Wibowo, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Ekspor kopi Jatim ke mancanegara sangat terbuka luas. Komoditas yang dihasilkan petani di Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi ini menembus pasar Eropa. Bean (biji kopi) dari petani tidak langsung di ekspor kepada buyer langsung, tetapi melalui perusahaan eksportir di Jatim.

“Rata- rata suplai kopi robusta 500 ton per musim. Sedangkan Arabica  sekitar 100-200 ton. Kopi Robusta disuplai pada April sampai Juli. Sedangkan  Robusta Juni sampai Oktober. Jumlah tersebut hanya mencukupi sekitar 20 persen dari pangsa pasar,” kata Ketua DPW Asosiasi Petani Kopi Jawa Timur (APEKI Jatim), Misbachul Munir.

Produktivitas tanaman kopi di Jatim mencapai delapan kwintal sampai 1,4 ton per hektare, terbilang rendah bila dibandingkan Vietnam yang bisa mencapai dua sampai tiga ton per hektar. Hal ini diperparah dengan rata- rata  luasan tanah yang ditanami kopi oleh petani hanya antara 0,25 sampai lima hektar. Biasanya, petani di Jatim melakukan pola tanam Tumpangsari. Yakni, menggabungkan tanaman induk dan tanaman sela. Seperti pisang, cengkeh, jahe, kunyit dan tanaman rempah–rempah lainnya. Hal tersebut dilakukan karena  dengan  pola menanam tumpangsari dapat menghasilkan Rp 2 juta per bulan.

Untuk mendukung pengembangan potensi kopi di Jatim, Dinas Perindustrian dan  Perdagangan Jatim (Disperindag Jatim) mendorong petani kopi meningkatkan kapasitas melalui kegiatan workshop, pelatihan, dan pameran supaya lebih profesional dalam rangkaian kegiatan pengolahan komoditi kopi. Mulai dari petik, olah, kemas, sampai jual.

Beberapa waktu yang lalu Disperindag Jatim menggelar Festival Kopi di Grand City Surabaya. Pameran tersebut diikuti oleh 30 peserta pelaku UKM kopi se-Jatim. Kegiatan ini, dimaksudkan untuk melakukan standarisasi olahan kopi untuk persiapan pemasaran kopi di luar negeri.

“Kami menguji standarisasi roasting, pengemasan dan inovasi lainnya di UPT Pengujian supaya 109 Usaha Mikro Kecel dan Menengah (UMKM) kopi di Jatim  memiliki produk siap ekspor yang produk dan kemasannya sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ber barcode,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Drajat Irawan.

Untuk lebih mengenalkan kopi Jatim di tingkat nasional dan regional, seperti halnya kopi Toraja dan kopi Mandailing, Pemprov Jatim memfasilitasi dengan memajang produk olahan kopi milik UMKM di 26 Kantor Perwakilan Pemprov Jatim dan mengikutkan dalam berbagai event pameran internasional. (nanang)