Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Pengakuan jujur disampaikan Adolf Newyn Panahatan, alias Aldo dihadapan jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Jatim, Winarko. Aldo, mengaku sabu-sabu 1,5 kilogram yang dikirim Bahruji (DPO) itu adalah milik dia dan istrinya Erlinta Larasanti.

Hal itu diungkapkan Aldo sewaktu menjalani sidang penyelundupan narkotika jenis sabu 18 kilogram dari Malaysia ke Madura di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

“Punya saya hanya 1,5 kg, bukan 18 kg,” katanya kepada Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri/PN Surabaya, Pujo Saksono, Jum’at (29/8).

Aldo, mengaku, barang haram itu jumlahnya 30 kg, tapi entah kenapa kok hanya 18 kg yang dikirim Bahruji dari Malaysia ke Sampang. Padahal, mertua Aldo alamarhum Edy Priyanto, semasa hidupnya pernah mentransfer uang melalui rekening Anton Laksamana Wijaya, sebesar Rp 50 juta.

“Edy Priyanto, itu mertua saya. Sebelum meninggal dia berpesan kepada saya untuk mengambil barang kepada Bahruji. Jadi, Itu bukan barang saya, ak, tapi milik almarhum mertua saya. Saya hanya disuruh ambil barang oleh mertua,” tutur Aldo.

Namun, keterangan Aldo, ini justru membuat majelis hakim marah. Hakim menyesalkan perbuatan Aldo, yang mau hanya mewarisi bisnis narkoba tinggalan almarhum mertuanya. Sementara, pada saat dirinya ditangkap dia malah berusaha mengelak. Padahal, selama ini Aldo hakim menilai kalau Aldi terkesan sangat menikmati bisnis peredaran barang tinggalan almarhum mertuanya.

“Dari tadi anda mengaku tidak tahu, tidak tahu kalau kiriman dari Bahruji itu narkoba, sabu itu tinggalan mertuamu, kamu pewarisnya. Jadi kamu yang bertanggung jawab. Kalau belum ditangkap kamu enak-enak saja, tapi kalau sudah begini kamu mengelak,” ujar hakim kepada terdakwa Aldo.

Dalam sidang ini, hakim Pujo Saksono, juga dibuat marah pada saat terdakwa Aldo, tidak mengakui kalau buku kecil berisi transaksi narkoba yang ditemukan polisi di lemari rumahnya, diakui bukan miliknya. Aldo, mengelak dengan cara kalau tulisan tangan di buku kecil itu bukan tulisan tangan dirinya.

“Yang saya tanyakan benar atau tidak buku (catatan) ini ditemukan sama saksi penagkap didalam lemarimu. saya tidak tanya yang lainnya,” tanya hakim Pujo dengan nada tinggi.

Kedua terdakwa akhirnya menyerah dan mengakui adanya buku catatan tersebut, saat ditunjukkan JPU Winarko, berkas surat penggeledahan yang ditandatangani terdakwa Aldo.

“Yaaaa, benar yang mulia, buku itu ditemukan dalam lemari rumah saya,” aku Aldo.

Sementara itu, penyidik yang dihadirkan JPU di persidangan membenarkan bahwa sesuai informasi masyarakat sebetulnya Aldo, akan menerima kiriman 30 kg sabu dari Malaysia. Namun, kenyataannya pada saat dilakukan penggrebekan hanya didapati 18 kg, dan fakta tersebut juga berkesesuaian dengan berita acara pemeriksaan penyidik.

“Di BAP memang 18 kg dan bukan 30 kg. 18 kg yang tercatat di BAP itu sesuai fakta pada saat dilakukan penggrebekan, Aldo ada saat disidik juga tidak dilakukan penekanan,” terang saksi.

Diketahui, pasangan suami isrti (pasutri) Adolf Newyn Panahatan alias Aldo dan Erlinta Larasati serta Hasul, Wati Sriayu, Febriadi alias Ipet dan Iskandar serta Bahruji (DPO) dijerat dengan dakwaan Pasal 114 ayat (2) junto Pasal 132 atau kedua Pasal 112 ayat (2) junto Pasal 132 Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika lantaran menyeludupkan narkotika jenis sabu dengan berat 18 kilogram dari Malaysia ke Sampang, Madura melalui pelabuhan tikus Damai.

Nama Aldo, dan Erlinta Larasti, terkenal sebagai aktor intelektual pengendalian narkotika jenis sabu di Sampang, Madura. Disebut-sebut jaringan bisnis sabu yang dikendalikan Aldo dan Erlinta adalah warisan dari alamarhun Edy Priyanti dan Bahruji (DPO).

Sedangkan Hasan dan Hasul berperan sebagai kurir dari Malaysia menuju ke Sampang, Madura. Sementara Febriadi alias Ipet, Wati Sriayu dan Iskandar sebagai pemilik sebagian sabu sekaligus pihak yang membantu menggerakkan jaringan mereka. (ton)