Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Semanggi mirip pecel. Menu yang mayoritas sayuran daun semanggi dicampur tauge ini, disiram bumbu cokelat kental. Bumbunya dibuat khusus dengan memadukan antara ketela, kacang tanah, gula merah serta diberi krupuk puli sebagai pelengkap semanggi.

Makanan khas arek-arek Suroboyo kini mudah ditemukan, khususnya di Kampung Kendung, Kelurahan Sememi Kecamatan Benowo. Sebab, sebagian besar warga di sana berjualan semanggi di pinggir jalan. Seperti ibu yang akrab dipanggil Im.

Ia mulai berjualan semanggi pada 2015 di sekitar jalan Raya Kendung Surabaya. “Saya berjualan semanggi untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tidak hanya saya yang menjual disini tetapi seluruh warga kampung semanggi ini,” kata ibu dua anak ini sambil melayani pembeli kepada bisnissurabaya.com.

Ibu dua anak ini kemudian bercerita tentang pedagang semanggi. Selain berjualan di kampung sendiri, sebagian lainnya yang keliling. Bahkan, ada yang berangkat subuh, dan mangkal di daerah Kenjeran, Kupang, Masjid Al Akbar, Taman Bungkul,’’ kata Bu Im, sambil menjelaskan dagangan yang mereka bawa ludes dibeli konsumen. Hal itu terlihat saat mereka pulang dengan membawa bakul kosong.

Harga semanggi pun tidak mahal hanya Rp 8.000 – Rp 10.000 se-porsi. Yang menarik, bagi konsumen yang membeli semanggi bisa makan di tempat dengan duduk beralaskan tikar dipayungi rindangnya pepohonan. (ayu)