Surabaya,(bisnissurabaya.com)-  Setelah memeriksa sejumlah saksi terkait insiden Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya akhirnya tersangka ditetapkan. Yakni,  TS ditetapkan Polda Jatim sebagai tersangka atas dugaan ujaran rasis saat aksi di Asrama Mahasiswa Papua tersebut.

Kapolda Jawa Timur/Jatim,  Irjen Pol Luki Hermawan, mengatakan, pihaknya sudah memeriksa 29 saksi terkait kasus itu.

Dari saksi yang diperiksa antara lain tujuh saksi ahli, dan 22 saksi masyarakat. Dari 22 saksi masyarakat tersebut, Polda Jatim sudah menetapkan satu tersangka berinisial TS. Polda Jatim menjerat TS dengan sejumlah pasal Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Kami sudah tetapkan satu tersangka berinisial TS yang kami jerat pada beberapa pasal Undang-Undang ITE kami kenakan, UU KUHP Pasal 160 dan UU Nomor 1 tentang peraturan hukuman pidana, buat provokasi, libatkan keributan atau kerusuhan,” kata Luki, di Surabaya, Kamis (29/8).

Adapun pasal 160 KUHP mengatur tentang penghasutan untuk melakukan perbuatan pidana, kekerasan terhadap penguasa hukum atau tidak menuruti undang-undang dengan ancaman kurungan maksimal enam tahun.

Luki menambahkan, terkait insiden kasus itu, TS melakukan hoaks pada 16 Agustus 2019. Kemudian, TS juga kumpulkan organisasi masyarakat (ormas) dan bertindak sebagai koordinator lapangan (korlap). “Dia kumpulkan sebagai ormas dan korlap didukung saksi yang lain. Jadi leader di lapangan terapkan semuanya,” beber Luki.

Adapun sejumlah barang bukti yang disita antara lain handpone, akun-akun, kumpulan video, dan baju yang digunakan saat aksi 16 Agustus 2019.

Saat ditanya mengenai penahanan terhadap TS, Luki belum dapat menjelaskan lebih detil. “Nanti kita lihat,” imbuhnya.

Selain itu, Polda Jatim juga mencekal enam orang di imigrasi untuk kepentingan proses penyelidikan. Keenam orang tetsebut sebagai saksi itu juga terus didalami dalam insiden Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya. “Ada enam dicekal di imigrasi untuk kepentingan proses penyelidikan,” tandas Luki.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo dalam keterangan resminya, mengakui polisi telah menetapkan satu orang tersangka dalam kasus insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

“Dilaporkan bahwa telah ditetapkan satu tersangka berinisial TS (Tri Susanti). Dia adalah Wakil Ketua Ormas FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI-POLRI),” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo dalam keterangan tertulis, Rabu kemarin.

Jaringan Organisasi Masyarakat juga meminta Kepolisian agar melakukan proses hukum terhadap pihak-pihak yang melakukan kekerasan serta tindakan yang diskriminatif.

Sementara, Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi) Jatim Andi Peci, menduga adanya disign besar dalam kerusuhan yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya dan Malang yang dilakukan oleh golongan oknum tertentu yang bertujuan memecah belah kesatuan.

Dirinya turut menyayangkan tindakan aparat penegak hukum terkesan melakukan pembiaran atas kasus itu. “Tidak ada tindakan tegas dari orang yang sudah melakukan tindakan persekusi. Sikap ini terus dilakukan Teman-temen di Papua mereka meminta keadilan, penindakan hukum terhadap orang-orang yang melakukan persekusi,” tegasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, pada 16 Agustus 2019 sekitar pukul 15.20 WIB, Asrama Mahasiswa Papua Surabaya di jalan Kalasan No 10 didatangi anggota TNI, Satpol PP, Polisi dan sejumlah Ormas.

Kedatangan mereka berkaitan dengan dugaan adanya pengrusakan tiang bendera dan pembuangan bendera merah putih ke selokan.

Berdasarkan keterangan dari salah satu mahasiswa yang ada di Asrama, pada saat kejadian tanggal 16 Agustus 2019, oknum anggota TNI sempat menggedor pintu gerbang Asrama sambil mengucapkan kata-kata “anjing, monyet, babi, binatang” yang ditujukan terhadap Mahasiswa Papua yang ada didalam Asrama. Beberapa saat kemudian datang puluhan anggota Ormas lalu melempari Asrama dengan batu. Massa juga menyanyikan yel-yel usir Mahasiswa Papua.

Berdasarkan pantauan langsung dari LBH Surabaya, sampai dengan pukul 23.40 WIB, massa, polisi, TNI dan Satpol PP terus bertahan di depan asrama. Selain membawa senjata laras panjang, aparat kepolisian juga membawa anjing pelacak. Hal ini kemudian membuat Mahasiswa yang ada didalam Asrama tidak bisa beraktifitas keluar asrama hanya untuk sekedar membeli makanan. Kemudian, sekitar pukul 2.00 WIab dini hari (17/8) terdapat dua orang mahasiswa yang mengantarkan makanan ke Asrama Papua ditangkap oleh aparat kepolisian dan dibawa ke Mapolrestabes Surabaya.(ton)