Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Semanggi merupakan makanan khas arek-arek Suroboyo. Kuliner berbahan dasar dedaunan ini kemudian disiram bumbu khasnya, ditambah kerupuk puli sebagai pelengkap. Makanan ringan ini penyajiannya diatas daun pisang berbentuk segitiga ini diminati warga kampung.

Sebenarnya, makanan khas ini berawal dari banyaknya semak semanggi di pojok kampung Surabaya yang dipenuhi rawa. Warga kemudian berinisiatif membuatnya menjadi olahan makanan. Tetapi, tumbuhan semanggi ini hanya ada di beberapa tempat saja. Seperti, di Kecamatan Benowo, khususnya Kampung Kendung, Kelurahan Sememi.

“Mayoritas warga disini adalah penjual semanggi. Ada yang menanam semanggi sendiri. Tetapi, ada pula yang membeli dari petani semanggi,” kata Ketua RT 03 RW 02 Kampung Kendung, Mujib, sambil melepaskan gagang dari daun semanggi. Jadi, tak heran jika kampung tersebut dijuluki Kampung Semanggi.

Bapak dua anak ini menjelaskan, proses pembuatan semanggi cukup mudah. Yakni, setelah daun dipisahkan dari gagangnya, semanggi dijemur lalu direbus dengan air panas selama lima menit. Jika sudah mendidih, angkat dan direndam dalam air dingin.

Setiap pagi warga setempat mulai berangkat berjualan. Ada yang berkeliling membawa kendaraan bermotor. Ada juga yang mendorong gerobak. Biasanya, mereka menjual semanggi di Taman Bungkul, balai kota. Bahkan, ada juga yang membuka stand/toko di beberapa tempat. Sepincuk semanggi dijual mulai Rp 8.000 sampai Rp 10.000. Dengan harga itu, penikmat kuliner sudah bisa menikmati lezatnya semanggi yang menjadi primadona warga kampung. (fania)