Tuban, (bisnissurabaya.com) –  Ratusan warga dan jamaah Klenteng terlibat desak-desakan dan saling dorong berebut sesaji di klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Hanya butuh waktu satu menit, 1.500 bungkus sesaji ludes diserbu warga. Rebutan nasi buceng ini merupakan tradisi upacara penghormatan terhadap arwah leluhur.

Pada saat bersamaan, pengurus dan jamaah Klenteng berlambang kepiting ini menggelar ritual sembahyang. Mereka bersama-sama memberi penghormatan di hadapan altar nenek moyang dan para leluhur. Ritual berlangsung khitmad sekitar 30 menit. Setelah ritual selesai, aba-aba dengan tanda tabuh beduk, rebutan dimulai langsung dibunyikan. Ratusan warga dan jamaah klenteng seketika merangsek maju merebut deretan sesaji. Seakan takut tak kebagian, warga terlibat saling dorong berebut buceng berisi makan.

Hanya dalam waktu dari tiga puluh detik, seribu lima ratus sesaji habis diserbu warga. Mereka yang cekatan bisa mendapat lebih dari satu sesaji. Namun ada pula para wanita dan lanjut usia tidak mendapat apa-apa, karena kalah terdorong.

Bagi mereka yang sudah memperoleh sesaji langsung pulang ke rumah untuk makan bersama keluarga. Tradisi rebutan buceng ini sudah menjadi langganan warga, karena dianggap sebagai rejeki. Namun, sebagian warga juga mengaku baru pertama kali ikut.

Ketua Klentheng Kwan Sing Bio Tuban, Gunawan Putra Wirawan, mengatakan, tradisi sembahyang rebutan atau disebut sedekah bumi ini sudah dilakukan jamaah klenteng Kwan Sing Bio sejak ratusan tahun silam. Hal ini dilakukan untuk memberi penghormatan kepada arwah para leluhur, yang tidak memeliki keluarga lagi dan tak terurus. Sehingga umat Tri Dharma, mengirimkan doa kepada para arwah tersebut.

Sesaji yang diperebutkan warga ini berisi nasi, mie instan, camilan, gula, garam dan roti. Setiap buceng merupakan sesaji dari jama’ah klenteng yang diberi tanda berupa bendera bertuliskan nama penyumbang. (mulyanto/stv)