Banyuwangi, (bisnissurabaya.com)- Suasana Pantai Cemara Banyuwangi, tampak berbeda dari biasanya.

Rombongan yang dipimpin Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, tiba di Pantai Cemara Banyuwangi, guna memberikan arahan kepada BPBD se-Jatim terkait kegiatan ekspedisi Destana Tsunami, yang dimulai dari Banyuwangi, Jatim, dan berakhir di Serang, Banten belum lama ini.

Sebelum memberikan arahan, Letjen TNI Doni Monardo mengungkapkan rasa kagum dengan suasana Pantai Cemara. “Tidak banyak pantai memiliki suasana seperti ini, sangat rindang dan indah,” ungkapnya.

Dikatakannya, pada tsunami Aceh, tahun 2000 lalu yang berpusat di pantai barat Sumatera, yang menelan korban lebih dari 200.000 jiwa.

Dimana, di Indonesia sendiri menelan korban lebih dari 150.000 jiwa.

Sementara, korban jiwa lainnya terjadi di Thailand, Srilangka, India dan sebagian Pantai Timur Afrika.

Namun, kata Letjen Doni, ada salah satu tempat di Thailand yang penduduknya selamat dari bencana tsunami dahsyat tersebut.

Hal itu karena, wilayahnya terlindungi sejenis pohon yang tumbuh di pantai. Yakni pohon cemara udang.

“Jadi kalau pemerintah Banyuwangi bersama komonitas di sini, termasuk kepala desa memilih menanam cemara udang di kawasan pantai adalah salah satu solusi cerdas mengantisipasi bahaya tsunami,” ucapnya.

Menurutnya untuk mengantisipasi bencana tsunami, tak bisa mengandalkan teknologi dan infrastruktur semata.

Mengingat, ada ratusan ribu kilometer pantai di Indonesia yang harus dikasih pelindung. “Berapa uang negara harus habis untuk itu,” cetusnya.

Jadi, menurutnya, langkah paling cerdas dan efisien mengantisipasi bahaya tsunami adalah upaya vegetasi dengan menanam pohon.

“Salah satunya dengan menanam cemara udang, seperti ini,” yakinnya.  Dirinya menganggap mereka yang telah berbuat menanam cemara udang ini bisa kategorikan sebagai pahlawan kemanusiaan.

Hal ini mengingat, hampir pasti sebagian besar pantai di Indonesia berpotensi  tsunami.

“Karena, berdasar data-data sejarah tsunami purba ditemukan. Termasuk sejumlah catatan di sejumlah lembaga di Belanda baik di sebuah universitas di Belanda maupun arsip nasional Belanda telah mencatat bahkan sejumlah peneliti pun menemukan bukti-bukti tentang adanya tsunami purba ini,” ucapnya.

Menurutnya pantai cemara ini bisa menjadi contoh, sebagai bukti nyata kerja cerdas.  Dirinya berharap upaya seperti ini bisa ditularkan di  berbagai daerah.

Menurutnya bekerja bukan sebatas tugas dan tanggung jawab tapi bekerja untuk kemanusiaan demi keselamatan masa depan generasi mendatang.

“Kita tak boleh egois. Dan , harus berpikir bagaimana menyelamatkan masa depan generasi mendatang sampai 100 tahun bahkan 1000 tahun yang akan datang,” ucapnya.

Oleh karena itu, BNPB merancang program Destana , Desa Tangguh Bencana sebagai satu langkah baik sebagai upaya mengingatkan bukan menakuti atau membuat sebuah kekawatiran.

Karena kita harus sadar dan paham bahwa negara ini terdiri dari sejumlah kawasan yang memiliki risiko bencana.

Baik itu karena adanya pertemuan subluksi yakni pertemuan lempeng di bagian barat dan selatan Pulau Jawa serta di bagian timur pertemuan lempeng Pasifik.

Dan sesuai data pergeseran lempeng ini pernah menimbulkan energi, pernah menimbulkan kekuatan gempa yang besar. Bahkan di atas 9 skala richter.

“Tiap segmen ini, punya siklus waktu, punya periode ulang tahunnya,” ucapnya.

Kapan waktunya, kata Letjen Doni, belum ada satu teknologi yang bisa menentukan kapan pastinya.

Namun, bisa diprediksi sesuai periodesasi yang pernah terjadi pada masa lalu.

Dirinya mencontohkan,  tsunami Aceh ternyata bukan sekali saja terjadi di tahun 2004. Tapi, pernah terjadi sebelumnya sebanyak 4 kali. Yakni 7.500 tahun lalu, 5.400, 3.300 dan 2.800 tahun lalu.  Artinya, ulang tahunnya tiap dua ribu tahun.

Diantara dua ribu tahun ini kata Letjen Doni, pernah terjadi gempa dan tsunami. Tapi skala tak sebesar dua ribu tahun. Termasuk di Selat Sunda.