Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Surabaya memiliki kampung kue. Sebab, setiap sudut rumah gang tersebut khususnya di kawasan Rungkut Lor dapat ditemukan pengrajin kue. Baik kue basah, maupun kering dan gorengan. Banyaknya pengrajin kue ini menjadi salah satu kelompok Usaha Kecil Menengah/ UKM.

Kampung kue ini sebenarnya tidak ujug-ujug. Ketika itu, pada 1998 saat krisis ekonomi melanda Indonesia, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja/PHK besar-besaran. Sehingga, banyak pengangguran. Untung saja, ada seorang ibu-ibu yang memiliki ide cukup brilian. Dia adalah Bu Choirul, yang mengajak ibu-ibu sekitar rumahnya di Rungkut Lor, agar tidak putus asa sambil menyalahkan ‘nasib’.

“Daripada setiap hari membicarakan gosip tetangga, dan ditagih rentenir lebih baik mencoba usaha. Misalnya, dengan membuat kue atau makanan ringan,” kata Choirul, kepada bisnissurabaya.com, Kamis (22/8) kemarin. Awalnya, kata ibu yang energik ini, hanya ada lima orang pembuat kue. Namun, berkat kegigihannya membangkitkan semangat ibu-ibu, akhirnya peserta tambah banyak hingga mencapai 65 orang.

Setelah 19 tahun berlalu, akhirnya warga kampung Rungkut Lor II hidup bahagia dari produksi kue. Hal itu terlihat, setiap subuh puluhan orang yang keluar masuk rumah warga sambil membawa keranjang yang berisi ratusan kue untuk dijual kembali. Tak heran, omset dari 65 pengrajin kue yang mereka dapatkan rata-rata pada kisaran Rp 25 juta per hari.

Adapun jenis kue yang dibuat beraneka-ragam. Ada kue kering seperti, almond crispy dan kue basah. Diantaranya, lemper, donat, pukis, onde-onde, kucur, apem dan lainnya. Demikian juga dengan harga kue bervariasi. Mulai Rp 1.250 hingga Rp 3.500 per item sesuai dengan jenis kue yang dipesan.

Choirul, yang terlihat awet muda ini menyatakan, dari 65 pengrajin yang ada di kampung kue, masing-masing pelaku usaha mampu memproduksi 600 hingga 700 kue setiap harinya. Ramainya aktivitas di kampung kue, bisa terlihat sejak dini hari pukul 04.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB. Sebagian besar yang memadati aktivitas subuh kampung itu adalah para pedagang, pengecer, maupun pengusaha toko kue yang sengaja untuk kulakan.

Saat ini, perkembangan di kampung kue sangat luar biasa. Selain mensuplay di toko-toko, mereka juga menjualnya melalui online. Seperti, instagram, whatsapp, facebook, web dan online shop. Disamping itu, para pengrajin juga menggunakan jasa promosi seperti menggelar pameran, banner, dan iklan melalui media arus utama. (fania/ayu)