Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Saat krisis moneter/Krismon banyak pabrik melakukan pemutusan hubungan kerja/PHK. Karena itu, membuat para istri mulai bangkit membantu suaminya untuk mencari nafkah. Hal itulah yang dilakukan Tujiah, warga Rungkut Lor gang II Surabaya. Semula, ibu rumah tangga ini hanya pasrah mengharap gaji suaminya setiap bulannya.

Namun, badai krismon pada 1998 memaksa ibu dua anak ini untuk membantu suaminya mencari nafkah. Kebetulan, tempat tinggalnya di kawasan Rungkut Lor, dikenal dengan sebutan kampung kue. Asal ada kemauan, sangat mudah untuk membangun usaha. Mungkin alasan itulah yang menyemangati Tujiah, membangun usaha gorengan.

Urusan goreng-gorengan, Tujiah memang ahlinya. Berbekal tuntunan dan bimbingan dari Bu Choirul, yang dianggap sesepuh Kampung Kue Surabaya, tak susah bagi ibu asal Jawa Tengah/Jateng ini bangkit membantu ekonomi keluarga. Dengan sekejab, dia tampil sebagai pengusaha gorengan di Kampung Kue Rungkut Lor Surabaya.

‘’Saya sudah 10 tahun merintis usaha gorengan. Dan responnya sangat positif. Dagangan saya laris manis,’’ kata Tujiah, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Rabu (21/8). Wanita dua anak tersebut memproduksi jajanan pasar/gorengan. Seperti, tahu fantasi, pisang molen, tahu isi, pastel, onde-onde dan arem-arem.

Bahkan, dirinya mengaku mampu memproduksi 300 gorengan per harinya. Jumlah tersebut bisa bertambah jika ada pesanan dari pelanggan. Adapun, gorengan yang dijual harganya mulai Rp 1.250 hingga Rp 3.500 per biji. Hasilnya, dalam sekejab omzet Tujiah, cukup fantastis mencapai Rp 11 juta per bulan.

Semua dikerjakan sendirian tanpa bantuan siapapun. Wanita yang kini memiliki empat cucu ini mulai memproduksi pukul 02.00 WIB. Alasannya, karena jam 04.00 WIB Rungkut Lor gang ll sudah ramai dikerumuni pembeli yang sebagian besar adalah pedagang. Tak jarang konsumen masuk kedalam rumah penjual untuk mengambil sendiri pesanan mereka.

“Setiap hari banyak pedagang keluar masuk kampung, sambil membawa keranjang yang berisi ratusan kue. Lalu mereka menjualnya lagi,” kata tujiah, sambil membuat adonan tahu fantasi ini. (ayu/fania)