Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Aksi kerusuhan mahasiswa Papua yang terjadi di beberapa daerah di Pulau Jawa, berbuntut panjang.

Kerusuhan terjadi di Manokwari, Papua Barat itu bermula dari massa yang memprotes atas dugaan persekusi dan rasisme yang diterima mahasiswa Papua di beberapa wilayah di Jawa Timur/Jatim, seperti di Surabaya dan Malang.

Kejadian di Malang dan Surabaya ini kemudian menimbulkan reaksi warga Papua yang akhirnya melakukan aksi protes besar-besaran di beberapa daerah di Papua. Warga Papua bereaksi, utamanya disebabkan beberapa kata-kata rasis yang sempat dilontarkan kepada Aliansi Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Human Rights Law Studies (HRLS) Fakultas Hukum Universitas Airlangga Haidar Adam, menyesalkan kejadian itu yang bertepatan dengan momentum Kemerdekaan RI yang sebenarnya toleransi dan nasionalis dalam kehidupan berbangsa.

Tak hanya itu, aliansi masyarakat yang tergabung dalam Jaringan Organisasi Masyarakat Jatim pun menyesalkan kabar perusakan tiang dan pembuangan bendera merah putih simbol negara itu di selokan hanya berdasar, pada informasi dari media sosial (Medsos) yang belum tentu kebenarannya. Sehingga, masyarakat terprovokasi akan medsos tersebut.

Haidar Adam, meminta semua pihak untuk menahan diri dan tidak terprovokasi dengan informasi yang berkembang dan menghentikan segala tindak kekerasan serta diskriminasi rasial terhadap Warga Papua.

Jaringan Organisasi Masyarakat juga meminta kepolisian melakukan proses hukum terhadap pihak-pihak yang melakukan kekerasan serta tindakan yang diskriminatif.

“Kami minta Komnas HAM untuk melakukan investigasi peristiwa di Surabaya dan Malang,” katanya.

Sementara, Konggres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi) Jatim Andi Peci, menduga, adanya disign besar dalam kerusahan yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya dan Malang yang dilakukan oknum tertentu yang memecah belah kesatuan.

Dirinya turut menyayangkan tindakan aparat penegak hukum terkesan melakukan pembiaran atas kasus itu. “Tidak ada tindakan tegas dari orang yang sudah melakukan tindakan persekusi. Sikap ini terus dilakukan teman-teman di Papua mereka minta keadilan, penindakan hukum terhadap orang-orang yang melakukan persekusi,” tegasnya.

Seperti diketahui pada 16 Agustus lalaubsekitar pukul 15.20 WIB, Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan No 10 didatangi ratusan ormas.

Kedatangan mereka berkaitan dengan dugaan adanya pengrusakan tiang bendera dan pembuangan bendera merah putih ke selokan.

Berdasarkan keterangan dari salah satu mahasiswa yang ada di Asrama, pada saat kejadian 16 Agustus, ada oknum sempat menggedor pintu gerbang asrama sambil mengucapkan kata-kata yang tidak pantas yang ditujukan terhadap mahasiswa Papua yang ada di dalam Asrama. Beberapa saat kemudian datang puluhan anggota ormas lalu melempari asrama dengan batu. Massa juga menyanyikan yel-yel usir Mahasiswa Papua.

Berdasarkan pantauan langsung dari LBH Surabaya, sampai dengan pukul 23.40, ratusan ormas bertahan di depan asrama.

Hal ini, membuat mahasiswa yang ada didalam asrama tidak bisa beraktifitas keluar asrama hanya untuk sekedar membeli makanan. Kemudian, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari Minggu (17/8) terdapat dua orang mahasiswa yang mengantarkan makanan ke asrama Papua ditangkap dan dibawa ke Mapolrestabes Surabaya. (ton)