Sawit Demi Ketahanan Energi Nasional

99

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – PERJUANGAN Pemerintah kita yang menolak penetapan tarif yang tinggi terhadap impor biodiesel asal kelapa sawit kita ke negara-negara Eropa yang dilakukan oleh Parlemen Uni Eropa (UE), kini bertambah seru. Hal demikian hendaknya dapat kita maklumi, karena kita membutuhkan terjualnya produk minyak sawit (biodiesel) kita itu sebagai komoditas ekspor. Karena kita membutuhkan devisa yang bisa didapat dari hasil pemasarannya di luar negeri. Kasus biodiesel asal kelapa sawit yang jadi topik kepentingan itu perlu kiranya saya angkat kembali dalam Opini ini.

Sepenting apa peranan kelapa sawit bagi perekonomian kita? Sepenting apakah peranan biodiesel dalam kehidupan teknologi modern dunia? Barangkali sekilas dari apa yang diperankan oleh kelapa sawit dan minyaknya itu dapat kita ketahui dari rekayasa manusia dan para teknolog kita dalam mengolah buah itu dan minyaknya. Bahwa minyak sawit tidak hanya untuk goreng-menggoreng makanan ataupun bahan pokok kosmetika. Namun dalam skala kepentingan yang jauh lebih besar. Juga harus dalam volume yang besar pula.
Barangkali penting juga kita ketahui sejauhmana peranan kelapa-kelapa cilik itu, meskipun dulu-dulunya banyak lahannya berasal dari kawasan hutan-lindung pada waktu itu yang “dijual” oleh pejabat-pejabat negara yang berkuasa dan bertanggung jawab soal kehutanan pada era sebelum tahun 2015 kepada beberapa pengusaha kebun sawit. Tindakan korupsi yang patut dikutuk, karena menyebabkan rusaknya habitat hutan. Malahan untuk meluaskan areal secara diam-diam, lahan belukar dan gambut dibakar dengan cara menyuruh orang melakukannya dengan dibayar.

Pertama-tama, kita ketahui dulu mengenai luas perkebunan kelapa sawit di negara kita yang tersebar dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan sebagian Maluku Selatan dan Papua itu kini mencapai lebih dari 143 juta hektare. Sejumlah 40,6 persennya menjadi milik petani kebun, sisanya milik BUMN Perkebunan dan perusahaan swasta. Artinya, apabila sampai dengan merugi dalam masalah pemasaran ekspornya seperti yang disebabkan aturan Parlemen UE itu, maka dapat kita ketahui, bahwa siapa-siapa saja yang dirugikan. Sebab, dengan tarif impor ke UE tinggi, otomatis harga biodieselnya tinggi dan pembelinya akan sangat berkurang.

Kedua, biodiesel itu terbesar untuk apa? Dalam teknologi modern, bahan tersebut digunakan sebagai pengganti minyak-bumi. Minyak bumi berasal dari fosil yang tertanam di dalam bumi. Para ahli telah memprediksi, pengeboran minyak-bumi secara besar-besaran sudah mengancam keberadaan fosil yang tertanam jutaan tahun di dalam bumi itu. Kalau sampai habis, berpengaruh selain adanya rongga-rongga di dalam bumi, juga berdampak sampingan pengaruhnya terhadap alam dan tentu saja kehidupan mahluk di atas bumi. Mereka berkali-kali menganjurkan, agar manusia dengan kemampuannya serta teknologinya, mendapatkan sumber daya alam lainnya. Umpamanya aliran air, sinar surya maupun arus angin.

Ketiga, beberapa perusahaan BUMN yang secara besar-besaran mengkonsumsi minyak bumi untuk operasionalnya,– yakni PT (Pesero) Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Pertamina (Pesero) ,– sudah memulai mencoba-coba untuk mengalihkan penggunaan minyak bumi yang berasal dari fosil itu dengan CPO (Crude Palm Oil), minyak mentah kelapa sawit alias bahan bakar nabati (BBN) alias biodiesel. Sebab, minyak bumi alias solar untuk PLN bagi semua Pembangkit ListrikTenaga Diesel (PLTD) itu berasal dari impor. “Uji coba dengan CPO sudah kami lakukan diuji pada mesin MAK#1 dan MAK#2.” kata Direktur Bisnis Regional Kalimantan PT PLN, Machnizon Masri di Jakarta (14/8). Uji coba di PLTD Kanaan Bontang itu kini disediakan sebanyak 167 ton untuk running test. Salah satu hasil ujinya, menurut Machnizon, memang ternyata hasil pembakaran masih tidak sebaik dengan dengan biodiesel 20 (B20). Kemudian pasokan CPO untuk uji coba itu mengalami kendala kekurangan. Sebab itu, uji coba itu masih terus dilanjutkan.

Sementara itu, Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero), Budi Santosa Syarif menyatakan (14/8), program pemanfaatan BBN dari kelapa sawit berpotensi menhemat anggaran impor hingga 500 juta dolar AS setiap tahunnya. “Dari sawit dapat memnghasilkan minyak sebesar 8,7 juta ton pertahun, dan dari hasil minyak sawit tersebut mampu mengurangi BBM hingga 16.000 barrel per hari.” ujarnya.
Keempat, Pertamina kini sudah mampu mengolah sawit menjadi bahan bakar dengan pencampuran 30 persen ke BBM untuk menjadi biodiesel 30 persen atau B30.
Sedangkan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar menjelaskan, bahwa proses uji coba bahan bakar B30 itu akan diakhiri pada Oktober 2019, dan kemudiannya tentunya dijadikan produk jualan BUMN tersebut. “B30 masih dalam uji coba. Nanti berakhir Oktober 2019” katanya.

Kelima, bahwa apabila ditinjau pemanfaatan biodiesel asal sawit itu demi ketahanan nasional di bidang energi, maka percobaan itu menurut Arcandra (12/8), bahwa kebijakan biodiesel 20 (B20) itu sudah dilakukan sejak Januari – Juli 2019 dan sudah berhasil menghemat devisa 1,66 miliar dolar Amerika atau setara Rp 23,6 triliun.
Keenam, pelaksanaan tersebut merupakan program pemerintahan Presiden Jokowi perioe 1 dan diteruskan dalam periode 2 yang mewajibkan pencampuran 20 persen biodiesel dengan 80 persen bahan bakar minyak jenis solar. Dimulai pada Januari 2016 bertujuan menghemat devisa dan mengoptimalkan bahan baku lokal berupa kelapa sawit. Hal itu sebagai salah satu keseriusan pemerintah dengan penggunaan bukan bahan bakar fosil demi menjaga ketahanan energi nasional.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa produk biodiesel kita itu harus dijual melalui ekspor dan menjadikan permasalahan dengan negara-negara UE? Jawabnya, bukan hanya dikarenakan produksinya masih berlebihan, akan tetapi kita membutuhkan penghasilan devisa dari ekspor non migas. Sedangkan untuk produk campuran dengan solar atau murni sepenuhnya biodiesel itu untuk keperluan PLTD PLN ataupun Pertamina, adalah penting diingat, bahwa kelapa sawit adalah produk pertanian. Faktor ketersediaan panennya harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai di tengah jalan, kehabisan pasokan. Dalam urusan produk kelapa sawit, harus diperhatikan faktor alami, pengelolaan, peremajaan pohon sampaipun transportasinya ke pasaran dan unsur manusiawi yang sangat berpengaruh. (amak syariffudin)