Ekspor Tuna Sendang Biru?

26

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Gubernur Jawa Timur/Jatim, Khofifah Indar Parawansa, dihadapan Dubes Republik Demokratik Belorusia (Belarus), Valery Kolesnik, yang berkunjung ke Surabaya (12/8), menawarkan ikan tuna untuk ekspor asal dari provinsi ini. Tawarannya itu menanggapi keinginan Belorusia untuk bekerja sama dalam produksi perikanan salmon dan tuna.

Tawaran Khofifah, ialah ikan-ikan tuna yang ditangkap nelayan Samodera Hindia dan dipunggah di Tempat Pelabuhan Ikan (TPI) Sendang Biru, Malang Selatan. Pokoknya, ada produk asal Jatim yang kira-kira patut ditawarkan kepada mereka. Khofifah, menyatakan, tuna-tuna asal Sendang Biru itu sebagai penyuplai tuna terbesar di Indonesia.

Karenanya, dia memandang, penghasilan berupa ikan-ikan tuna yang berhasil ditangkap dijadikan komoditas ekspor dalam bentuk ikan kalengan ke negara itu. Dia menawarkan agar Belorusia membangun pabrik pengolahan ikan tersebut di Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), karena dekat dengan Pelabuhan Internasional Tanjung Perak.

Saya tidak maklum, apakah penawaran Gubernur wanita pertama provinsi ini didorong oleh “semangat guyonan” Suroboyoan yang berbunyi:  “Sombong Disik, Sugih Kari”. Berlagak dulu/memberanikan diri dulu, perkara kekayaan/hasil keuntungannya urusan  belakangan! Mudah-mudahan tidak begitu. Terlebih lagi diharapkan, mudah-mudahan pimpinan dan pengusaha serta rakyat Belorusia dengan serius menanggapinya dan benar-benar berinvestasi industri perikanan, khususnya untuk produk ikan tuna kalengan guna dipasarkan di dalam negerinya. Memang bisa diperkirakan biayanya cukup tinggi dan harga jual tuna kalengan itu bisa cukup mahal. Masalahnya, negara yang (dulunya  sebagai wilayah jajahan negara komunis Uni Sovyet yang kini Russia) beribu kota Minsk itu terletak dalam “kepungan” wilayah negara lain. Di utara Latvia, barat Lituania, selatan Polandia dan timur Russia. Lautnya dimiliki oleh negara-negara tersebut. Tidak punya laut, otomatis pelabuhannya ikut negara lain. Kalau bukan di kawasan Latvia, Polandia atau Lituania, yang kesemuanya punya pantai di Laut Utara.

Lalu soal ikan tuna yang dipunggah di TPI Sendang Biru. Pelabuhan Ikan itu terletak di bagian selatan Kabupaten Malang. Kalau anda ke sana, pertama-tama ke selatan kota Malang lalu berbelok memasuki Jalan Pantai Selatan arah jalan ke Lumajang. Sesampainya di kota kecamatan Turen, kira-kira dua kilometer dari situ berbelok arah kanan. Dari tempat itu, masih sekitar 70 kilometer menuju pantai Samodera Hindia. Saya beberapa kali berkunjung dan menginap di kompleks Perum Perhutani KPH Malang Selatan dan berkunjung ke TPI yang berada di “mulut” selat Sendang Biru. Namun sayangnya belum pernah menemukan nelayan perahu-perahu besar yang berlabuh di sana membawa hasil tangkapan ikan tuna. Begitu pula yang sedang disimpan di cool storage TPI itu. Artinya, maksud saya, kalau benar-benar jadi komoditas ekspor nantinya, jumlah tangkapannya harus  memenuhi target yang diminta. Maklum, menangkap ikan tuna tidaklah gampang.

Ikan tuna memang “jagoannya” ikan untuk dikonsumsi. Restoran yang menjual ikan tuna pasti mematok harga mahal untuk masakannya. Dan konsumen paling rakus adalah orang-orang Jepang. Hampir 50 persen tuna yang ditangkap di perairan Indonesia dan Pasifik, pasarnya di Jepang. Tetapi mereka selalu memilih kualitas ikan itu. Terutama tuna yang disebutnya “blue fin” (sirip biru). Penangkapannya pun umumnya tidak bisa dijaring. Harus dipancing secara khusus, antara lain dengan pancing long-line.  Karena  jadi target tangkapan, PBB telah menetapkan ukuran/usia ikan tuna yang boleh ditangkap. Yang kecil-kecil tak boleh. Bisa punah.

Kalau anda ingin menyaksikan bagaimana ikan-ikan itu diangkut dengan pesawat terbang Japan Airlines langsung ke Jepang, kunjungilah cool storage yang sangat besar di Pelabuhan Benoa, Denpasar. Beberapa ahli ikan dari Jepang selalu siap di sana untuk menilai kondisi dan mutu daging tuna yang ditangkap oleh kapal-kapal pencari ikan milik pemerintah kita.

Di Indonesia, ikan tuna mengarungi laut dalam. Biasanya yang dari Samodera Hindia “menyeberang” ke Samodera Pasifik atau sebaliknya, melalui Selat Lombok terus ke utara Selat Sulawesi atau di daerah timur lewat Laut Banda mulai dari perairan Papua hingga Maluku Utara.

Kalau benar Belorusia bakal berinvestasi pabrik pengolahan ikan tuna di Jatim, sudah seharusnya kita bertepuk tangan atas prestasi Gubernur  wanita kita. Kalau mereka ternyata masih menghitung-hitung biaya produknya terlalu tinggi, bisa kita fahami karena posisi geologisnya memang jauh nun di sana. (amak syariffudin)