Ini Perang Dagang RI vs UE: Minyak Bakal Lawan Susu

1095

Surabaya, (bisnissurabaya) SEUMPAMA ada Menteri dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo itu dibolehkan mengumpat-umpat, barangkali saat sekarang ini akan terdengar keras dan tersirat dalam pemberitaan media massa. Namun, tak akan ada umpatan dari pejabat negara. Sebab, jangan sampai ada pejabat tinggi pemerintahan berkata kasar, apalagi mengumpat.Tak boleh. Tak elok. Tak layaklah. Akan tetapi, nada marah boleh-boleh saja dikemukakan. Begitulah Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dengan nada geram (9/8) berkata: “To be far, tentu kita akan terapkan tarif yang sama untuk produk mereka. Tinggal tunggu waktu saja!”

Sasaran geramnya itu adalah negara-negara Uni Eropa (UE), yang pada 4 Januari lalu menetapkan tarif bea masuk (impor) minyak biodiesel kita yang berasal dari kelapa sawit, dikenakan tinggi sekali. Yakni, antara 8-18 persen! Kebijakan itu secara provisional (sementara) berlaku 6 September 2019 dan berlaku selama 5 tahun. Menteri itu juga sudah bicara dengan menteri UE dan menanyakan niat Parlemen UE menerapkan tarif tinggi untuk produk biodiesel kita itu. Sekaligus “mengancam” akan melakukan balasan. Rencananya, Indonesia akan “membalas” kebijakan UE itu. Menteri Enggartiasto, menyebutkan, salah satu komoditas asal ‘Benua Biru’ itu yang berpotensi besar untuk dinaikkan tarif impornya ke negara kita adalah produk susu sapi. Rencananya tak tanggung-tanggung, yakni, menaikkan tarif impor paling rendah 20 persen! Meskipun masih perlu membahasnya dengan Menko Perekonoimian kita. Dia sudah memberi tahu para importir susu agar dapat mencari sumber susu dari negara lain. Seperti Australia, Selandia Baru atau Amerika Serikat. “Ini adalah sebuah pesan yang sangat kuat. Kalau mereka mengenakan bea masuk tinggi dengan alasan yang sesuai, kita akan terima. Tetapi kalau mengada-ada, ya kita tidak mungkin diam. Mereka yang memulai proteksionisme dan perang dagang!” kata Enggartiasto. Kalaulah kelak para importir dapat berpindak mendapatkan sumber susu dari negara lain, maka kita bisa merasakan hasil produk pabrik-pabrik kita berupa olahan susu cair di dalam kaleng atau bubuk susu Australia, Selandia Baru atau Amerika Serikat.

Menimpali pernyataan Menteri tersebut, Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Pradnyawati, menyatakan, Pemerintah RI harus tegas terhadap sikap UE  yang telah melakukan hambatan perdagangan yang signifikan pada ekspor biodiesel Indonesia. “Kami akan menyampaikan respons tegas secara resmi untuk hal itu. Bila proposal itu menjadi penentuan awal, maka bisa dipastikan ekspor biodiesel  ke Uni Eropa mengalami hambatan,” ujarnya.

Sejak keputusan UE itu dikeluarkan, Indonesia dan Malaysia sudah mengajukan protes dan usulan kepada WTO (World Trade Organization), yakni organisasi urusan perdagangan dunia di bawah PBB, yang nampaknya Indonesia dan Malaysia dinyatakan “kalah”. Presiden Joko Widodo dalam kunjungan balasannya ke PM Malaysia Dr. Mahathir Mohammad, di Kuala Lumpur  minggu lalu, juga membahas masalah tersebut dan bersepakat untuk “memperkuat melawan” keputusan UE dan WTO.

Kita sudah dua kali dikalahkan WTO (World Trade Organization) dalam urusan bisnis global. Yang pertama, urusan “menghadang” impor ayam Brazil, negara pengekspor utama unggas di dunia. Negara dansa samba itu protes ke WTO untuk diselesaikan dan tuntutannya dimenangkan. Artinya, impor ayam dan produk ayam dibolehkan diimpor ke negara kita. Kedua, protes kita (Indonesia dan Malaysia) ke WTO yang menuntut keputusan UE tentang pengenaan bea masuk biodiesel kita dinaikkan tinggi, juga ditolak. Kalau pemerintah bersikap emosional dan tidak mengingat berlaku baik dalam pemerintahan di dunia, bisa saja berseru “persetan dengan WTO” atau “go to hell WTO”. Namun, buntut dari sikap demikian bisa panjang dan justru tidak menguntungkan dalam pergaulan negara-negara di dunia.

Yang kita maklumi, sikap negara-negara anggota UE yang kesemuanya adalah bekas negara-negara penjajah (kolonialis) terhadap negara dan bangsa-bangsa di Afrika dan Asia, masih dilingkupi pemikiran, jangan sampai negara-negara Asia-Afrika yang berpotensi perdagangan produknya bisa “menguasai” pasar UE menjadi lebih besar. Sementara itu, produk-produk (terutama produk industri) Eropa menjadi sangat berkurang di pasaran negara-negara Asia. Semuanya terdesak oleh produk-produk industri negara-negara Asia dan juga industri dalam negeri masing-masing.

Kita maklumi, bahwa produk ekspor non-migas kita yang terbesar dan potensial adalah minyak kelapa sawit atau sesudah diolah menjadilah yang disebut “biodiesel”. Bagi negara kita, hasil ekspor tersebut sebagai salah satu tumpuan pendapatan negara (dan masyarakat yang terlibat) yang cukup besar. Terutama bagi pendapatan APBN kita.  Justru produk tersebut yang dipersulit atau dihambat oleh UE. Jadi, kalau Menteri Enggartiasto Lukita naik pitam dan berupaya “membalas” terhadap susu yang diimpor dari negara-negara UE, itulah kiranya yang disebutnya “perang dagang” antara minyak (sawit) bakal  lawan susu! Konsumen kita sebagai pengguna susu Eropa pun kiranya bakal berubah mengkonsumsi susu dari negara-negara yang ditawarkan oleh Enggartiasto itu. Sama-sama susunya kok.  (amak syariffudin)