Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Sensasi ngopi di tapal batas. Keberadaan Kota Surabaya sebagai kota metropolitan tidak terlepas dari kabupaten tetangganya seperti Sidoarjo,  Gresik, dan Bangkalan sebagai daerah penyangga. Jutaan warga dari ketiga kabupaten tersebut yang tiap hari pulang pergi untuk mencari nafkah di kota Pahlawan.

Apabila menjelang senja, daerah yang ada di perbatasan Surabaya selalu diwarnai kemacetan kendaraan yang menuju luar kota. Baik kendaraan umum maupun pribadi.

 

Kemacetan lalu lintas yang ada di tapal batas kota inilah yang ditangkap sebagian pengusaha yang ada. Diantara batas dua kota tersebut. Contohnya Hotel Neo yang terletak di Waru Sidoarjo.

“Kami ingin menawarkan suasana santai di tengah kemacetan, dengan memberikan layanan warung giras dengan makanan yang enak dan murah meriah,” kata Hotel Manager/HM Hotel Neo Waru Sidoarjo, Sumarno didampingi Sales Marketing Manager Nisrina Mardani, Head Chef  Eko Kunurir,  kepada bisnissurabaya.com Senin (12/8).

Berbagai menu khas warung giras yang diusung Angkringan Waras Blurik ini, antara lain, wedhang kopi murni, wedhang teh tubruk, wedhang jahe, wedhang uwuh, aneka gorengan, aneka kletikan, dan mie nyemek yang dimasak di tungku yang menggunakan arang.

“Selain menawarkan harga yang murah mulai makanan seharga Rp 4.000, kami juga menawarkan suasana senja teras hotel yang nyaman diselingi suara kereta api yang melintas,” jelas HM asal Solo ini.

Alunan suara keroncong masa kini dan gelas-gelas blurik yang hadir di Angkringan Waras Burik ini, tentu saja semakin memantapkan tradisi arek Suroboyo dan Sidoarjo yang memang sejak dulu gemar nyangkruk untuk ngopi bareng sambil bercengkerama untuk melepaskan diri dari kepenatan pekerjaan. (nanang)