Bakal Ada Penyet Ayam Negara Samba

10

Surabaya (bisnissurabaya.com). DALAM waktu dekat ini, anda jangan kaget ketika sedang enak-enaknya menyantap ayam penyet atau gorengan ayam atau opor ayam, ternyata sang ayam itu menari-nari gaya samba Amerika Latin di sendok-garpu atau di piring. Maklum, kini ayam maupun produk ayam (seperti telur) bakal membanjiri pasar (terutama supermarkets) kita yang berasal dari Brazili. Negara Tarian Samba!. Kok bisa?

Kisah ini diawali ketika Brazil, negara pengekspor unggas terbesar di dunia, meminta Organisasi Perdagangan Dunia/World Trada Organization (WTO) membuka panel guna menyelidiki kebijakan Indonesia mengenai larangan impor ayam dan produk ayam asal Brazil. Dalam persidangan WTO, Brazil memenangkan kasus sengketa dagang melawan negara kita pada 2017 lalu. Tapi kini Brazil minta WTO menegakkan keputusannya, karena keputusan itu katanya tidak dilaksanakan oleh pemerintah kita.

Organisasi iru akhirnya menegur kita. Pemerintah siap menjalankan ketentuan itu dengan mengijinkan masuknya impor ayam dan produk ayam Brazil. “Tidak ada pilihan lain untuk kita menyesuaikan sesuai rekomendasi WTO itu.” kata Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita (7/8). Dia mengakui, bahwa pemerintah kita telah menyalahi ketentuan WTO dengan melarang masuknya impor ayam dan produk ayam negara samba itu. Karenanya keputusan itu siap dilaksanakan, karena kalau tidak memenuhinya, memunculkan presden buruk bagi negara-negara lain . Tentu saja ada sanksi buat kita, terutama terhadap produk-produk ekspor kita. “Kalau tidak, mereka memiliki hati untuk melakukan retaliasi dengan berbagai produk yang sama atau produk lainnya, dan 19 negara lain akan ikut serta.” kata Enggartiasto. Karenanya, pemerintah menyiapkan impor tersebut, termasuk tentang sertifikat sanitasi internasional atau sertifikat halal. “Kita akan sesuaikan untuk itu. Jadi tidak usaha ada kekawatiran, karena masih ada rangkaian yang lain. Pada dasarnya peraturan itu dibuat agar jangan melanggar dan jangan melanggar dan jangan memberi batasan,” ujarnya.

Sebenarnya, pemerintah kita masih berusaha sekuat mungkin melindungi keberadaan para peternak ayam kita, Organisasi peternak itu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) pada Mei 2018, tahun lalu,  sudah mengadakan rakernas pertamanya yang dihadiri seluruh perwakilan organisasi masing-masing,  membahas kekalahan Indonesia melawan Brasil oleh WTO pada 2017. Ketua Gopan, Herry Dermawan (4/5-2018)  menyatakan hal itu sebagai ancaman. Kalau ayam Brazil masuk, ancam  yang krusial bagi nasib peternak mandiri dalam negeri kita. Masalahnya, ayam asal Brasil harganya lebih murah dibanding produk dalam negeri. Diaukuinya,peternak Brasil sudah sangat efisien dan biaya produksinya sudah sangat murah. Hal itu disebabkan Brazil penghasil jagung ekspor utama di dunia. Harga jagung mereka paling mahal Rp 2.200,-, sedangkan di negara kita Rp 4.000 atau Rp 5.000 di musim paceklik. “Perlu ada upaya apa saja yang dirumuskan bersama atau mengatasi import ayam Brazil,” kata Herry.

Jadi, pengingkaran “sementara” keputusan WTO antara tahun 2018-2019 oleh pemerintah itu kiranya adalah upaya perlindungan kepada para peternak ayam kita, sambil berusaha bagaimana bisa nantinya bersaing dengan datangnya “ayam-ayam samba” itu. Jumlah peternak ayam di provinsi Jawa Timur pun tidak sedikit, yang produknya sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan daging ayam maupun telur ayam di pasaran Jatim maupun keluar provinsi ini. Akankah mereka juga bakal terkena desakan  ayam-ayam Brazil itu?

Dalam perdagangan  era globalisasi ini, tidak akan ada daerah yang tidak terkena imbas imjpor sesuatu produk kebutuhan masyarakat. Cepat atau lambat. Kiranya pernyataan dari organisasi Gopan yang sudah bersiap diri menghadapi serbuan ayam dan telur impor itu dalam Rakernas 2018 serta “diulur-ulurnya” waktu oleh pemerintah yang nampaknya agar para peternak ayam kita “siap diri”, kiranya dapat diharapkan kesiapan para peternak untuk mampu mempersaingkannya  produknya dengan daging dan telur ayam Brazil yang memang diakui oleh dunia sebagai unggas-unggas unggulan.

Bagaimana pun juga, untuk awalnya dalam beberapa bulan ke depan ini akan terjadi guncangan harga ayam Brazil. Importir ayam-ayam Negeri Samba itu jelas bakal mencari harga yang lebih murah. Terlebih kalau terjadi lonjakan-lonjakan harga yang ditetapkan oleh peternak nasional maupun pedagang ayam pada hari-hari yang secara tradisional dinaikkan harganya seperti untuk Idulfitri, Idul Adha, atau hari-hari yang diupacarai.

Bagi konsumen nantinya, hanya akan melihat dan membeli daging ayam dan telur yang baik, halal, dan harganya lebih murah. Hal yang perlu diperhatikan oleh para peternak dan pedagang ayam lokal. Tidak akan bisa mempertahankan, agar konsumen (terutama oleh pengusaha kuliner yang menggunakan daging ayam dan telur dalam produknya) wajib atau hendaknya atau dihimbau agar membeli produk hasil peternak ayam nasional, meski harganya lebih tinggi dari yang asal impor. Bukan begitu dalam proses perdagangan yang berlaku di pasaran. Jadi, tinggal bagaimana kiat yang telah dipersiapkan oleh para peternak ayam kita. Terkecuali kalaulah daging ayam impor itu ternyata kurang bermutu, dianggap tidak halal (hendaknya kita berhati-hati bicara soal itu) atau harganya lebih tinggi, sehingga daging ayam dan telur produk dalam negeri dapat menguasai pasaran.

Namun, sekurang-kurangnya anda dalam waktu dekat menyantap penyet atau opor atau gorengan ayam penari samba. Bisa merasakan ayam atau telurnya menari samba di atas piring atau mungkin di dalam mulut! (amak syariffudin)