Gresik, (bisnissurabaya.com) – Tak banyak yang tahun, usaha bawang merah dan jahe ternyata menjanjikan. Selain dibutuhkan sebagai konsumsi di dalam negeri, permintaan dari luar negeri atas  dua jenis komoditi ini juga tinggi. Jawa Timur/Jatim khususnya di Kabupaten Batu, Jombang dan Nganjuk ladang dua komoditas itu berlimpah. Bahkan, di Kabupaten Nganjuk petani sudah memadukan komoditas Bale (Bawang Lele). Artinya, menanam bawang merah sekaligus beternak lele. Tak berlebihan, setiap dua bulan sekali petani di kabupaten yang terbilang kecil di Jatim ini panen dua komuditas sekaligus. Melihat prospek yang bagus inilah, Kementerian Pertanian/Kementan mengundang anak muda untuk menekuni dunia pertanian?

Pemerintah dalam hal ini Kementan memiliki kebiajakan yang bertujuan meningkatkan ekspor hortikultura. Termasuk jahe dan bawang merah. Sejak 2015 pemerintah memberi perhatian lebih kepada peningkatan produksi komoditi ini. Dan upaya itu telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini terbukti pada pertengahan Juli lalu di Surabaya, Kementan kembali melepas ekspor bawang merah dan Jahe.

Tujuan ekspornya keempat Negara. Yakni, Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Jumlahnya  sebanyak 1.000 ton. Selain itu, Kementan juga melepas ekspor jahe gajah ke Bangladesh sebanyak 500 ton dari Surabaya dengan tujuan Banglades. Saat pelepasan ekspor kedua komoditas itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Suwandi, yang didampingi Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Yasid Taufik, mengatakan, ekspor ini merupakan salah satu bukti nyata kebijakan  untuk mewujudkan kedaulatan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional melalui ekspor.

‘’Saya mendorong  penuh agar pertumbuhan ekonomi semakin kuat dan masyarakat termasuk makin sejahtera,’’ kata Suwandi, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.  Sebagai informasi, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejak 2016 Indonesia telah menutup total kran impor bawang merah dan cabai segar. Sebelumnya, pada 2014 Indonesia masih impor bawang merah sebanyak 74.903 ton, lalu pada 2015 impor menurun drastis menjadi 17.428 ton.

Namun,  pada 2017 Indonesia berhasil membalikkan keadaan dengan mulai mengekspor bawang merah ke beberapa negara tetangga hingga mencapai 7.750 ton. Angka ini naik 93,5 persen dibandingkan pada 2016 yang ada di angka 736 ton. Capaian produksi bawang merah nasional di tahun 2018 pun mencapai 1,5 juta ton atau naik 2,04 persen dari 2017 yang hanya menghasilkan 1,47 juta ton.

Seiring dengan kenaikan jumlah ekspor pada bawang merah, produktivitas ekspor jahe pun meningkat. Ekspor jahe selaras dengan kenaikan jumlah ekspor pada bawang merah, produktivitas ekspor jahe pun meningkat. Tercatat pada Januari hingga Mei 2018 ekspor jahe sebanyak 1.400 ton dan pada Januari hingga Mei 2019 naik menjadi 1.543 ton atau meningkat 10,2 persen. Kenaikan yang patut menjadi catatan juga adalah kinerja ekspor sayuran. Pada periode Januari hingga Mei 2018 tercatat hanya sekitar 24.997 ton, tapi pada periode Januari sampai Mei 2019 naik sebesar 33,3 persen atau menjadi 33.331 ton.

Komoditi bawang merah  sudah menembus 11 negara dan jahe ke 26 negara. Sebelas negara tujuan ekspor bawang merah itu adalah Jepang, Hongkong, Taiwan, Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Britania Raya, dan Belanda. Adapun 26 negara tujuan ekspor jahe meliputi Jepang, Hongkong, Korea, Taiwan, China, Singapura, Filipina, Malaysia, Vietnam, India, Bangladesh, Irak, Iran, UEA, Qatar, Australia, Timor Leste, Amerika, Britania Raya, Belanda, Perancis, Jerman, Belgia, Swiss, Ceko, dan Serbia.

Dalam pelepasan ekspor tersebut, turut hadir  para eksportir. Salah satu perwakilan eksportir Aman Buana Putra, menjelaskan  ekspor  bawang merah ke Singapura, Filipina, Malaysia, dan Thailand itu merupakan bukti nyata produksi bawang merah yang dihasilkan petani mengalami surplus.

Bawang merah yang diekspor itu dihasilkan petani dari Probolinggo dan Bima. Jahe pun dihasilkan petani di Ponorogo dan Probolinggo. Aman optimistis bahwa ke depan volume ekspor bawang dan jahe akan semakin bertambah. Sebab, Kementan saat ini  lebih fokus dalam menambah sentra produksi dan petani semakin semangat karena perhatian Kementan sangat tinggi, baik bantuan benih maupun alat mesin pertanian.

Jahe merupakan  komoditas hortikultura bernilai ekonomi cukup tinggi sebab memiliki banyak manfaat. Mulai sebagai bahan baku pembuatan minuman penghangat, bumbu dapur, penambah rasa, atau penyedap makanan hingga bahan baku herbal. Dan dari pengamatan di lapangan  luas lahan yang ditanami jahe selalu menunjukan peningkatan seiring minat para petani yang makin tinggi karena dinilai  lebih menguntungkan.

Petani dalam membudidayakan tanaman jahe biasanya menggunakan  sistem tumpangsari. Artinya digabung dengan tanaman lain. Bahkan di Nganjuk budidaya bawang digabung dengan budidaya Lele. Di kolamnya diisi ikan lele di permukaan tanahnya ditanami hortikultura. Komoditas jahe dan bawang merah ini memiliki prospek yang menjanjikan. Peluang untuk ekspor sangat  terbuka luas. Seperti  permintaan jahe  berdatangan dari China, Bangladesh, Pakistan, Belanda, dan Brunei Darussalam.

Keunggulan yang dimiliki produk  tanaman dari Indonesia cukup banyak.  Pembeli luar negeri lebih tertarik jahe dari Indonesia bila dibandingkan jahe dari Vietnam dan Thailand. Ini disebabkan kandungan minyak atsiri, pati, dan serat jahe Indonesia lebih baik.

Selain dari luar negeri, permintaan dalam negeri pun juga luamayan tinggi. Terutama daerah-daerah yang  tidak memiliki lahan yang cukup untuk hortikultura, Seperti di Kabupaten Gresik untuk pemenuhan kebutuhan jahe dan bawang merah sebagian besar dipenuhi dari daerah lain. Mengingat sentra pertanian di  daerah ini tidak begitu banyak. Sebaliknya  sentra pertambakan lebih mudah dijumpai di kota pudak ini.

Seperti dijelaskan Agus Budiono Kepala Dinas Perdagangan dan UMKM Gresik pemenuhan komoditi jahe dan bawang merah lebih banyak didatangkan  dari daerah lain. “Disamping dari dari daerah lain para pedagang Gresik juga kulakan (berbelanja) ke Puspa Agro di Sidoarjo,” jelas Agus. Dari suplai itu kebutuhan jahe dan bawang merah di Kota Pudak selama ini tidak pernah terjadi gejolak. Artinya kebutuhan akan dua komoditi itu tercukupi. (sam)