Grab Tambah Persaingan di Jalanan Kota

357

Surabaya (bisnissurabaya.com) – KELUHAN dan protes kalangan pengusaha dan terutama para pengemudi taksi beberapa waktu lalu terhadap operasional taksi-taksi online Grab di Jabodetabek,  Surabaya maupun di Makassar, memang menghasilkan diterbitkannya beberapa aturan beroperasinya taksi-taksi online Grab-Indonesia.

Akan tetapi, kali ini tidak mempan dilakukan protes karena suit bersaing.  Masalahnya, justru muncul taksi-taksi pola konvensional di Jabodetabek dalam wujud mobil-mobil merk Avanza Transmofer dari perusahaan transportasi online: Grab. Nama taksi itu “Greenline Taxi”. Anda bisa temui mereka berkeliaran atau parkir di Terminal mana saja Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, maupun di mall-mall kota metropolitan itu.

Bagaimana cara memesan taksi itu. Grab menentukan dua cara. Yakni memesan melalui online (lewat HP) lpada Call Center Greenline. Atau pun kalau di jalanan bisa dengan cara  seperti memanggil taksi konvensional lainnya, yakni “street hailing” atau melambaikan tangan memanggilnya. Dengan begitu,  jumlah keberadaan operasional tarnsportasi umum berupa taksi di kota-kota kini bertambah, sehingga memudahkan warga untuk menggunakan transportasi umum. Cara membayarnya juga dibuat gampang, yakni bisa membayar dengan duit (cash payment) ataupun melalui HP anda non-tunai (saldo pada OVO).

Dalam siklus perekonomian, tujuan utama para pebisnis dalam operasionalnya untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan memberi kesukaan atau pemenuhan kebutuhan konsumennya. Begitu pula dalam bisnis alat transportasi. Kota Jakarta Raya yang luas dan berpenduduk padat serta lebih dari 60 persen tempat terjadinya bisnis nasional dan internasional serta “peputaran uang”, kebutuhan sarana transportasi bentuk taksi masih juga diperlukan. Meskipun jumlah taksi yang ada kini  puluhah ribu unit.

Di Surabaya yang bangkit menjadi kota metropolitan, kebutuhan taksi dari jumlah taksi-taksi konvensional yang ada sekarang, masih dirasakan kurang. Banyak kawasan yang tidak terliput operasionalnya secara rutin. Karena para pengemudinya berpendapat, sepinya konsumen menggunakan kendaraannya, disebabkan kawasan itu apakah sedikit orang yang berkeinginan/berkemampuan naik taksi dengan tarifnya yang cukup mahal, atau di kawasan itu tinggal keluarga-keluarga elit yang punya mobil masing-masing. Sehingga, orang yang mendadak berada di kawasan tersebut dan membutuhkan taksi, sulit menemukan taksi, karena kawasan itu dihindari para pengemudi taksi.

Dengan meluncurkan taksi pola konvensional, juga memudahkan calon penumpang yang membutuhkan, akan tetapi tidak mempunyai atau kesulitan dalam menggunakan aplikasi dalam HP-nya, sehingga dimudahkan dengan gaya “street hailing”.

Bagaimana dengan keberadaan taksi-taksi yang sudah ada? Tentu saja bila nantinya Grab-Indonesia meluaskan operasional taksi konvensionalnya yang berwarna hitam diberi garis hiju dan putih berplat-polisi sebagai angkutan umum (warna kuning) itu di kota Surabaya, maka muncullah persaingan di jalanan. Biasanya, orang ingin mencoba moda transportasi baru itu. Tentu juga karena dari pengalaman menggunakan mobil-mobil yang diliput oleh Grab, tarifnya lebih murah ketimbang dengan menggunakan taksi beragrometer.

Dalam bisnis, persaingan merupakan bagian dari pola operasional pelakunya. Dalam perkembangan perdagangan modern, pemunculan inovasi teknologi maupun pola operasional baru slelau berkembang dan bisa menguntungkan satu pihak, tetapi juga dapat pula merugikan bagi pihak lainnya. Namun yang utama, apakah menguntungkan bagi orang banyak atau masyarakat dalam kehidupannya di alam modern ini. Begitulah nantinya apabila operasional taksi-taksi konvensional baru itu bakal beroperasi di kota Surabaya. (amak syariffudin)