Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kebutuhan kosumsi bawang merah di Indonesia mencapai 1.100 sampai 1.200 ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah mengimpor dari Filiphina, Vietnam, dan Thailand. Kegiatan impor ini berlangsung sampai 2013, karena sejak 2016 Indonesia berhasil swasembada pangan untuk bawang merah. Bahkan, berbalik bisa ekspor ke beberapa negara.

Adalah PT Sian Liep Bumi Persada dan CV Bawang Mas 99 yang selama ini bergerak dibidang ekspor impor komoditi hortikultura. Seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kayu manis, kapuk, dan lain-lain. “Dulu kami impor 20 kontainer, sekarang kami bisa ekspor kesana sampai 80 kontainer. Bayangkan untuk ekpor ke Thailand saja,  sampai bulan ini mencapai 12 kontainer,” kata Direktur PT Sian Liep Bumi Persada dan CV Bawang Mas 99 Thio Herry kepada Bisnis Surabaya belum lama ini.

Kegiatan ekspor yang dilakukan Thio Herry, mendapat apresiasi dari pemerintah. Beberapa kali postingan di facebook tentang kegiatan ekspor yang dilakukan mendapat like dari Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Bawang merah yang diekspor adalah bawang putih super yang dinamakan super Philip. Komoditas ini berasal dari Probolinggo dan berjenis bawang hijau. Probolinggo, Brebes, Palu, Gorontalo, dan Enrekang merupakan daerah penghasil bawang merah unggulan di Indonesia.

“Biasanya spesifikasi bawang merah super yang diterima untuk ekspor berisi 70 sampai 80 butir per kilo,” jelas ekportir tunggal bawang di Surabaya ini. Setelah berhasil swasembada bawang merah, durian, kelengkeng dan jeruk, pemerintah melalui Kementerian Pertanian berencana melakukan swasembada bawang putih pada 2021, posisi sekarang ini sudah tercapai 60 persen dari yang ditargetkan.

“Untuk menunjang kebijakan swasembada bawang putih yang sudah digariskan oleh Menteri Pertanian, pihaknya siap bekerjasama dengan kelompok tani di beberapa daerah di Malang dan Batu untuk menanam bawang putih,” tambah ayah dari Aman ini. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur/Jatim, kebutuhan bawang di Jatim mencapai 55.000 ton per tahun.

Produksi bawang lokal dari petani hanya bisa memenuhi 1,5 persen dari total kebutuhan itu. Sedangkan sisanya didapat dari bawang impor. Kasi Sayur dan Tanaman Obat Dinas Pertahanan dan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim, Indrawati, mengatakan kebutuhan bawang putih maupun bawang merah di Jatim sebesar 55.000 ton setara dengan produksi di lahan seluas 11.000 hektar.

“Sebelumnya jumlah lahan yang ditanami bawang hanya 100 hektar. Karenanya produksi itu hanya bisa mencukupi 1,4 persen dari total kebutuhan yang ada,” kata Indrawati. Namun saat ini, kondisi ini kian membaik seperti halnya komoditi bawang merah sudah swasembada bahkan melakukan ekspor bawang ke negara lain. (nanang)