Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Olahan kopi saat ini kian varitatif. Salah satu produk kopi hasil inovasi ini adalah kopi jambe nom. Atau kopi jambe muda. Inovasi ini dilakukan Muntaha, tahun 2015. “Selain kopi jambe nom, saya bikin inovasi jus jambe nom,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Kopi jambe nom, ini terbuat kopi dan jambe muda. Yang juga diyakini berkhasiat untuk kesehatan dan kewanitaan. Prosesnya, jambe muda dioven terus diproses menjadi bubuk. Pemasaran kopi jambe nom ini sudah meluas bahkan sampai Korea dan Taiwan. Harga pasaran dari Rp 25.000 – Rp 30.000 per 100 gram.

Jenis kopi yang dipakai robusta. Karena jenis kopi lain tak cocok. “Alasan bikin inovasi, untuk mengantisipasi harga kopi murah,” ucapnya. Meski kopi untuk olahan ini hanya terserap 10 persen. Kawasan Gombengsari sendiri sudah dikenal sebagai kawasan penghasil kopi sejak ratusan tahun lalu. Komoditas kopi menjadi tanaman rakyat.

Muntaha sendiri menanam kopi di atas lahan seluas 2 hektar. Saat ini dirinya juga tercatat sebagai ketua Kelompok Petani Kopi Tunas Harapan. Kelompok ini memiliki anggota 80 petani kopi. Menurut Muntaha dirinya merasa kasihan terhadap nasib petani kopi. Mengingat kopi kerap dihargai murah.

Di kawasan ini, juga terdapat keberadaan kopi langka, kopi kapataka. Merupakan jenis kopi peninggalan Belanda. Istimewanya rasa cokelat. Bentuknya tak seperti kopi biasa, tapi lenih mirip seperti buah belimbing. “Dulu di kawasan sini banyak, tapi karena banyak yang ditebang, kini hanya sisa 19 pohon,” icapnya. Keberadaan kopi kapataka ini banyak diicar. Dirinya mencoba Coba melestarikan kopi kapataka. (tin)