Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Swasembada bawang merah yang digulirkan pemerintah sejak 2013, mendapat sambutan positif dari masyarakat petani di Indonesia. Dari tahun ke tahun luasan tanah yang digunakan untuk menanam bawang merah semakin bertambah luasannya. Sehingga hasil panen bawang merahpun meningkat.

Salah satu Kelompok Tani di Batu yang dipimpin M Toha, merasakan adanya peningkatan hasil panen bawang merah di daerahnya. Bahkan hasil panen tersebut dirasakan melimpah apalagi di musim panas seperti ini. “Dari setiap hektar tanah yang ditanami bawang, kami bisa  panen 8 ton -10 ton setiap 3 bulan,” kata Ketua Kelompok Tani Bawang Batu, M Toha, kepada Bisnis Surabaya pekan lalu.

Tahun 2021 Kementerian Pertanian menggulirkan Swasembada bawang putih. Swasembada bawang putih tersebut dimaksudkan bukan hanya mengembalikan kejayaan bawang putih. Tetapi juga menghilangkan ketergantungan dengan negara lain. Baik dari segi pasokan maupun harga yang telah membuat merugi justru rakyat Indonesia.

Rintisan swasembada tersebut dimulai pada 2017 dengan luas pertanaman 1.900-an hektar. Semua hasil panen dijadikan benih untuk ditanam pada 2018. Sedangkan pada tahun 2018, ditargetkan pertanaman di 11.000 hektar. Hasil pertanaman 2018 kemudian dijadikan benih untuk pertanaman 2019 di lahan seluas 20.000 – 30.000 hektar.

Jadi, hingga 2021, diperkuat dan perbanyak benih untuk kebutuhan dalam negeri. Dan sudah dihitung untuk kebutuhan 2021 membutuhkan luasan sampai 100.000 hektar untuk pemenuhan kebutuhan benih dan konsumsi. Kurang lebih 60.000 hektar untuk kebutuhan konsumsi.

Menyambut kebijakan tersebut, M Toha dan rekan-rekannya mulai menanam bawang putih. Tahun ini, mereka menanam sebanyak 80 hektar, dan konsentrasi yang dilakukan adalah pembenihan bibit bawang putih lokal. “Kami bekerjasama dengan investor dengan pembagian keuntungan 80 persen petani dan 20 persen investor,” jelas M Toha

Jika swasembada bawang putih dimulai, dan kebijakan impor ditutup,  maka status importir bisa menjadi pelaku usaha yang bermitra dengan petani. Sehingga ada keberlanjutan usaha. Setiap yang ditanam pastinya akan habis diserap pasar. (nanang)