Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kalau mendengar kata Dolly, yang terbayang dibenak kita adalah kawasan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara. Bahkan, karena terkenalnya ada ungkapan yang menyebutkan bahwa Dollywod itu sama terkenalnya dengan Hollywood di Amerika Serikat dan Bollywood di India.

Pendapat itu benar, tetapi untuk 10 tahun yang lalu. Kini, Dolly penampilannya sudah berubah sejak ditutup beberapa tahun lalu. Dolly sekarang menjadi pusat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)  dan pusat pengembangan edukasi, seni dan budaya.

Adalah Jarwo Susanto, arek asli Dolly yang ikut merubah wajah gang itu hingga seperti sekarang ini. Jarwo adalah pengusaha tempe yang terkenal di kawasan tersebut. Awalnya Jarwo, adalah pedagang warung kopi/warkop di eks lokalisasi Dolly. Dalam sehari, Jarwo, bisa mendapatkan uang dari usahanya itu minimal Rp 500.000 hingga Rp 800.000. Pendapatannya per bulan berkisar Rp 45 juta.

Saat Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, menutup kawasan Dolly pada 18 Juni 2014 Jarwo Susanto, adalah salah satu warga Dolly yang menentang keras penutupan lokalisasi yang dilakukan lima tahun lalu itu. Keterlibatan Jarwo menolak penutupan Dolly itu dilakukan dengan demonstrasi dan cara-cara lain.

seperti membakar ban, menggiring kerbau bertuliskan nama Soekarwo, Risma, dan Kepala Dinsos Surabaya Supomo, hingga bentrok dengan aparat. “Hingga akhirnya saya menjadi buronan polisi dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),” kata Jarwo Susanto kepada Bisnis Surabaya beberapa waktu yang lalu.

Dalam masa pelarian dan tinggal di rumah saudaranya di Sidoarjo, Jarwo, belajar cara membuat tempe dan dipraktikkan di rumah. Bisnis usaha tempe ia jalankan hingga sekarang. Dari semula hanya menghasilkan 3 kilogram tempe per hari, saat ini menjadi 25 kilogram per hari.

Bahkan, hingga go international. Jarwo, juga memberdayakan keluarga dan tetangganya,” Awalnya, tempe itu ia beri nama Tempe Dolly. Namun, saat berkeliling menjajakan tempe di kawasan Dolly menggunakan sepeda onthel, belum banyak warga yang membeli tempe Jarwo tersebut. Hingga pada akhirnya, Jarwo melakukan re-branding produk dengan nama Tempe Bang Jarwo. Alasannya sederhana, karena saat itu sinema kartun Adit Sopo Jarwo banyak ditonton warga.

“Ini juga saran dari keluarga agar produk tempe saya ini mudah diingat. Dan ternyata benar, tempe saya mulai laris,” jelasnya. Jarwo sukses merubah dirinya dan lingkungannya. Semula dia mendapatkan rejeki dari cara yang tidak halal, kini dia menjelma menjadi seorang pengusaha yang berpenghasilan puluhan juta rupiah. Yaaaa……, lewat sepotong tempe dia mampu merubah keadaan yang ada.  “Alhamdulilah omzet saya dalam satu bulan sekitar Rp 10 juta sampai Rp 18 juta,” tambah Jarwo. (nanang)