Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Sosok pemuda kampung yang sederhana. Meski demikian, dia memiliki sebuah impian besar. Sejak muda, dirinya tercatat sebagai anak cerdas. Karena itu, usai menamatkan pendidikan di SMAN Purwoharjo, pria bernama Widarto, ini bisa melanjutkan kuliah di sebuah kampus negeri bergengsi di Malang. Lulus kuliah tahun 1998, Jurusan Teknik Mesin DIII, Universitas Brawijaya, dirinya memilih hijrah ke ibu kota Jakarta untuk melanjutkan pendidikan sarjana di ISTN sembari bekerja di sebuah perusahaan industri. Kariernya cukup bagus. Sebagai lajang waktu itu, gajinya sudah di atas UMR.

Setelah 5 tahun tinggal di ibukota dan menikah dengan wanita asli Benculuk, pada 2002, suami ini memilih keluar dari zona nyaman meninggalkan karier yang sudah mapan. Demi pulang kampung ke Dusun Tambakrejo untuk mewujudkan sebuah cita-cita besar. “Saya melihat potensi di desa itu lebih bisa diharapkan,” ucap pria Kelahiran Banyuwangi, 9 Mei 1976 ini. Salah satu impian terbesarnya bisa menjadi bagian dari masyarakat dan mengabdi untuk masyarakat. Setelah pulang kampung, dengan bekal pendidikan yang dia miliki, dirinya sempat mengajar sebagai dosen di STIKOM Banyuwangi.

Di luar bidang pendidikan, dirinya memilih berada di zona penuh tantangan dengan terjun ke dunia wirausaha. “Awalnya saya menekuni usaha berjualan palawija sembari bertani,” ucap bapak dua anak ini.
Menurutnya jika dulu profesi petani sempat dipandang sebelah mata. Namun, kini, seiring dengan teknologi dan kecanggihan pemanfaatan lahan, terobosan pasar serta harga yang bagus, banyak orang melirik profesi petani.

Penghasilan petani pun tak kalah dengan profesi lain. “Orientasi petani kini bukan hanya sebagai buruh cangkul. Tapi, lebih ke manfaat bagi petani lain,” ucapnya. Dengan begitu, kata Widarto pendidikan tetap diperlukan. Petani profesional bukan hanya lulusan sekolah dasar. Kini banyak lulusan sarjana yang melirik profesi petani.

Saat ini, dirinya mananam jeruk dan buah naga dengan teknologi lampu. Total lahan seluas 2 hektar. Tiap hari ada dua sampai tiga orang bekerja di lahannya. ‘’Dengan asumsi satu orang punya tanggung jawab untuk satu keluarga, yakni satu istri dan dua anak, maka jika tiap hari saya memperkerjakan dua orang pekerja laki laki, sama saja saya ikut mengentaskan delapan orang untuk bisa hidup,” ucapnya.

Dia berharap, jika banyak yang mengikuti konsep pertanian yang dia terapkan berarti akan lebih banyak yang bisa dikerjakan. Artinya petani di lingkungan tak akan kesulitan mencari pekerjaan. Disamping bertani, pria yang usai menunaikan ibadah Umroh bersama keluarga tahun 2017 lalu ini, aktif dalam memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, sosial dan kemasyarakatan. Tahun 2002 sampai 2005 suami Endang Setyowati ini tercatat sebagai ketua remaja masjid setempat.

Dan, sejak 2005 sampai sekarang, menjadi takmir masjid setempat. “Termasuk tanggung jawab kerja ketakmiran ini menggerakkan anak anak cinta agama dan masjid,” ucapnya. Widarto pun aktif menggerakkan remaja dan pemuda setempat untuk memberi kontribusi positif terhadap lingkungan.
Salah satu kegiatan lingkungan yang dia garap bersama pemuda setempat, membersihkan sungai setempat yang dulu kotor, kini menjadi kawasan wisata pemancingan.

Dari kegiatan ini pun membuka penghasilan bagi warga setempat. Diantaranya, digunakan untuk kegiatan sosial. Sehingga rasa kekeluargaan makin terpupuk. Harapannya ke depan, seiring makin majunya teknologi, masyakarat bisa menggali informasi sebanyak banyaknya sehingga terkait apapun masalah yang ada, termasuk bidang pertanian, bisa diselesaikan. Menurutnya, apapun profesi kita jika kita sungguh-sungguh, tekun dan komitmen, maka kita akan bisa mencapai harapan sesuai yang kita impikan. (tin)