Surabaya, (bisnissurabaya.com) Kemajuan teknologi yang berkembang pesat, membuat  pelaku usaha bertindak cepat menyesuaikan diri. Sebab, jika tidak segera melakukan, dapat dipastikan ketinggalan dan mengalami stress yang luar biasa. Apalagi, teknologi mampu merubah wajah industri yang semula manual berubah menggunakan mesin.

Revolusi industri ke 1 yang membawa perubahan besar bagi peradaban manusia, dimulai saat ditemukan berbagai mesin yang mampu mempermudah pekerjaan manusia. Antara lain, mesin cetak oleh Johannes Gutenberg dari Jerman dan mesin uap oleh James Watt dari Inggris. Revolusi Industri ke-2 ditandai dengan ditemukannya mesin dinamo listrik oleh Michael Faraday, kemudian disusul computerisasi industri sebagai tanda revolusi Industri 3, dan yang terakhir digital printing sebagai awal dimulainya era revolusi industri 4.0.

Pameran bisa menjadi sarana promosi alat serta transfer teknologi, antara industrial dan pelaku usaha. Termasuk pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2019 yang diadakan PT Krista Media Pratama yang berlangsung mulai 1 – 4 Agustus 2019 ini.

“Kedepan, pameran seperti ini perlu melibatkan Industri Kecil Menengah/IKM. Caranya dengan menggelar pameran mesin bekas. Supaya, pelaku IKM mampu membelinya,” kata Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian Dr Ir Taufik Bawazier, M.Si kepada bisnissurabaya.com Kamis (1/8) siang.

Selama ini, kata dia, beaya sektor industri di Indonesia mencapai 30 persen dirasakan sangat tinggi oleh pelaku usaha. Karena itu, dengan adanya mesin-mesin industri, maka dapat mengurangi beaya operasional yang sangat besar itu. Tentu saja, hal ini  diimbangi dengan pengambilan keputusan pemilihan sektor industri yang bahan bakunya mudah didapatkan di Indonesia.

“Industri kertas dan percetakan masih tetap bisa diandalkan di Indonesia,” tambahnya. (nanang)