Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Kue bolu jaman dulu/jadul  tak lekang oleh waktu. Penggemar bolu jadul, sampai detik ini masih bertahan. Alasan inilah yang membuat pria asal Dusun Nganjukan, beralih menekuni usaha bolu jadul.Sebelum ke usaha bolu jadul, Hadi, berkecimpung di usaha bakery selama puluhan tahun.

Namun, akibat ketat persaingan usaha bakery disamping resiko barang rusak jauh lebih besar, dirinya beralih ke usaha bolu jadul.  “Usaha bolu jadul ini saya tekuni sejak tiga tahun silam,” kata Hadi, kepada Bisnis Banyuwangi belum lama ini.Selain lebih untung, menurut dia, kue bolu jadul lebih tahan lama ketimbang bakery.

Risiko barang kembali pun jauh lebih kecil.Proses produksi bolu jadul ini tiap hari. Di rumahnya yang berada di Dusun Nganjukan, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu.Proses produksi masih dia tangani bersama sang istri.

Bolu jadul buatan pasutri ini dikenal istimewa. Dari segi tampilan dan warna sangat menggoda. Jika digigit, terasa krispi di luar, lembut di dalam. Dari segi rasa, manis gurih. Rasa manisnya pun pas. Jika dimakan tak nyendal di mulut.

Hal ini membuat bolu jadul buatan pasutri ini disukai pelanggan. Seiring dari mulut ke mulut pihaknya kebanjiran pesanan bolu jadul untuk oleh-oleh. “Banyak yang pesan buat oleh-oleh mudik ke berbagai kota,” ungkapnya.Diakui Hadi, sejauh ini pemasaran bolu jadul miliknya masih sebatas kawasan Genteng.

Secara rutin, Hadi, keliling dari satu toko ke toko langganan lainnya, menawarkan kerjasama,  sistem titip. Menurut Hadi, tak ada rahasia khusus membuat bolu jadulnya.

Rata-rata bahannya sama dengan pemilik usaha bolu jadul lainnya. Yakni, tepung terigu, gula dan telur. Tekniknya pun tak jauh berbeda. Hanya, yang membuat bolu jadul buatannya terasa beda, dirinya mengutamakan kualitas bahan baku. “Untuk bahan baku, saya pilih kualitas terbaik karena sangat berpengaruh ke rasa,” ucapnya.Salah satunya telur. Dirinya hanya memakai bahan telur yang fresh. Yang hanya dia beli dari toko langganan.

Rasagurih dari bolu jadul buatannya selain menambahkan garam, pihaknya memilih margarin sebagai bahan olesan cetakan. Sehingga memberi rasa gurih. Dirinya memilih memasarkan sendiri bolu buatannya. Hal ini untuk meminimalkan risiko barang kembali. “ Dengan memasarkan sendiri, saya tahu kekuatan masing- masing toko,” ucapnya.

Harga bolu jadul miliknya dia bandrol murah dengan rasa mewah. Yakni Rp 8.000 per kemasan, isi 25 biji. Dari usaha ini, dirinya mengaku mendapat penghasilan lumayan. (tin)