Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Hati siapa tak iba melihat seorang yang berusia lanjut harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terlebih jika dia seorang perempuan tanpa sanak keluarga. Namun, begitulah kehidupan sebenarnya, walau banyak orang mendambakan bisa senang dan kaya raya di usia muda. Untuk kemudian bahagia di usia senja, dan mati masuk surga.

Yaaa…, Mustianah adalah salah satunya. Janda tanpa anak berusia 64 tahun ini telah ditinggal suaminya. Atrap, suaminya yang pekerjaannya sopir sudah meninggal bulan Januari lalu. Sebelum Atrap, meninggal mereka berdua tinggal di sebuah rumah peninggalan orang tua suaminya di Jalan Petemon Sidomulyo.  Tetapi, setelah Atrap, meninggal Mustianah, terpaksa meninggalkan rumah tersebut karena diminta oleh keluarga Atrap.

Sejak itu, Mustianah tinggal di sebuah rumah kost di Jalan Penanggunan di belakang SMK N 2 Surabaya. “Pekerjaan sehari-harinya adalah mengamen menggunakan pakaian badut dengan membawa tape tenaga aki yang dibelinya dengan cara mengangsur,” kata relawan sosial yang medampingi, Adhi Wicaksana kepada bisnissurabaya.com, Rabu (26/6).

Mustianah (foto/nanang)

Walau penghasilan dari mengamen keluar/masuk kampung sekitar Rp 40.000 per hari, Mustianah, selalu bersyukur. Walau penghasilannya itu harus disisihkan beberapa ribu rupiah per hari untuk membayar kost sebesar Rp 300.000/bulan. “Ahamdulillah, sampai saat ini tidak ada tunggakan pembayaran uang kost,” jelas Adhi Wicaksana.

Untuk makan sehari-hari, kadang Mustianah, juga mendapat belas kasihan dari tetangga, walau sesungguhnya dia tidak menginginkannya. “Saat ini, Mustianah menderita katarak dan sakit di tulang lutut dikarenakan faktor usia,” tambah alumni STM Pembangunan ini. Semangat bertahan hidup dan pantang menyerah yang dimiliki Mustianah mendatangkan apresiasi dan simpati banyak orang.

Hampir tiap hari ada relawan atau dermawan yang datang memberikan bantuan. Baik berupa uang maupun natura. Mereka berharap dapat meringankan beban yang dipikul Mustianah. (nanang)