Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Pro kontra Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran/TA 2019/2020 berkaitan sistem zonasi direspon positif. Pengelola Masjid Joglo Roudlotul Muttaqin, Sidoarjo mendukung kebijakan baru pemerintah dalam menerapkan sistem zonasi.

Direktur Masjid Joglo Roudlotul Muttaqin, Sidoarjo, M Khoirul Rijal, mengatakan, dengan adanya sistem zonasi, siswa atau peserta didik setiap harinya memiliki kesempatan pulang lebih cepat. Sehingga waktu sosialisasi dengan keluarga dan lingkungan masyarakat lebih leluasa. Hal itu, berbeda jika mereka harus bersekolah yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

“Karena setiap hari mereka pulangnya lebih cepat, tentunya kesempatan memanfaatkan waktu untuk sholat jama’ah disaat waktu Ashar, Maghrib dan Isya dengan keluarga serta masyarakat sekitar rumahnya semakin besar. Dan itu pendidikan yang terbaik dari keluarga dan lingkungannya,” kata Rijal, kepada bisnissurabaya.com, Rabu (26/6) pagi.

Manfaat positif lainnya, kata dia, siswa didik juga memiliki kesempatan untuk menambah pengetahuan agama dengan memanfaatkan waktunya untuk mengikuti pendidikan informal. Seperti, bergabung dengan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) atau Madrasah Diniyah (Madin) yang ada disekitar rumahnya.

Pendidikan keagamaan juga tidak kalah penting dengan pendidikan formal. Karena tantangan orang tua saat ini semakin komplek. “Orangtua jangan hanya beranggapan cukup mensekolahkan anak di lembaga formal. Namun, mendidik akhlak anak adalah tanggung jawab penuh orang tua. Soal akhlak jangan cukup hanya dilimpahkan ke guru di sekolah,” jelasnya.

Penerapan sistem zonasi, menurut dia, seharusnya menjadi peluang semua pengelola masjid di Indonesia. Keberadaan masjid juga harus berbenah menjadi masjid yang ramah anak. Pengelola masjid harusnya mulai berfikir manfaatkan lingkungan sekitar masjid menjadi arena bermain anak-anak. Sehingga, anak terbiasa berada di lingkungan masjid.

“Pendidikan sejak usia dini ini sangat penting. Sehingga fungsi masjid bukan hanya sebagai sarana aktivitas keagamaan, tetapi juga memiliki fungsi pendidikan,” katanya. Rijal mencontohkan, di Masjid Joglo disiapkan halaman depan masjid sebagai lapangan sepak bola. Sehingga sehabis Sholat Ashar dan malam habis Sholat Isya mereka ramai-ramai bermain bola.

“Kami juga merintis pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) serta Taman Santri untuk arena bermain dan belajar bagi anak-anak. Mudah-mudahan pembangunannya segera cepat selesai,” harapnya. (bw)