Gresik, (bisnissurabaya.com) – Apa yang ada dipikiran, saat mendengar nasi karak.  Pastinya akan teringat nasi yang sudah hampir basi, lalu dikeringkan, dan diolah kembali, atau yang  biasa disebut dengan nasi aking.

Di zaman penjajahan Jepang, kehidupan rakyat Indonesia sangat sengsara. Selain miskin mereka juga kelaparan. Pakaian yang dikenakan berbahan kain gelacu (bekas karung bungkus tepung terigu) dan makannya nasi aking.

Tapi, kini nasi aking sudah menjadi menu khas favorit. Jika ke Gresik,  di simpang lima Petrokimia  akan dijumpai pedagang nasi gerobak yang berjualan nasi karak dan nasi merah.

Menu Nasi Karak. (Foto/nanang)

“Nasi karak hanya bisa ditemui saat pagi hari. Karena memang nasi karak merupakan menu sarapan khas Gresik,” kata penikmat nasi karak Hery Kurniawan, kepada bisnissurabaya.com Kamis (20/6).

Ada dua jenis karak. Pertama, karak putih berasal dari beras yang ditambahi sedikit air kapur, sirih, dan garam. Kemudian ditanak seperti nasi pada umumnya. Kedua, karak hitam. Berasnya ditambah campuran ketan hitam agar menghasilkan warna hitam dan diberi garam.

“Agar lebih sedap, biasanya waktu menanak dimasukkan daun pandan,” jelas pejabat Petro Kimia ini.

Untuk lauknya, nasi karak ditemani godho tempe (gimbal tempe goreng), Bali belut, dan parutan kelapa serta poya. Paling pas menikmati godho tempe saat masih panas.

“Lebih menyenangkan,  dipadu cabai rawit saat menikmatinya,” tambah mantan Ketua OSIS STM Pembangunan Negeri Surabaya ini. (nanang)