Ponorogo, (bisnissurabaya.com) – Jawa Timur/Jatim memang surganya kuliner di Indonesia. Hampir semua kotanya memiliki makanan khas dengan citarasa masing-masing. Di Surabaya ada rujak cingur dan lontong balap, di Pasuruan ada nasi punel. Banyuwangi tekenal dengan rujak soto, Gresik ada nasi krawu , Kota Lamongan dengan soto ayam dan tahu campurnya.

Sementara kalau ke Ponorogo, selain melihat penampilan reog ponorogo, para penikmat kuliner akan dimanjakan dengan makanan khas sate ayam. Yaaa…, setiap orang yang berkunjung ke kota itu pasti akan mencoba menikmati makanan lezat berbahan ayam yang dipanggang tersebut.  Sehingga ada ungkapan kalau ke Ponorogo tidak lengkap kalau belum mencoba sate ayamnya.

“Setiap ke Ponorogo, saya pasti mampir makan sate ayam. Dan sate ayam yang enak ada di Ngepos,” kata Penikmat sate ayam Ponorogo Heri Kurniawan,  kepada bisnissurabaya.com Minggu (16/6). Sate Ayam Ngepos berada di pertigaan Jalan Soekarno Hatta dan Panglima Soedirman. Sehingga orang mudah mencarinya.

Di sana ada beberapa pedagang sate ayam yang menempati bangunan ruko. Diantaranya, Pak Yatno, Pak Dar, dan Pak Gareng. Setiap jam makan siang, pasti dipenuhi pembeli. Baik sendirian maupun rombongan. Sehingga banyak pembeli harus rela antri menunggu giliran. Sate ayam di Ngepos menyediakan beberapa menu pilihan. Antara lain, daging, kulit, jerohan, telur muda, dan campur.

“Cara memasak yang khas dengan mencelupkan sate kedalam bumbu sebelum dibakar. Kemudian dicelupkan lagi membuat sate rasanya nikmat,” jelas laki-laki yang juga menjabat salah satu jabatan di PT Semen Gresik ini. Pedagang sate ayam Ngepos, rata-rata sudah berjalan beberapa generasi. Ada yang dua generasi. Bahkan ada yang sudah tiga generasi. Dan rata-rata mereka mempertahankan resep tradisional warisan keluarga mereka.

Perkembangan penjualan sate ayam di Ngepos yang terus meningkat, sepertinya harus diantisipasi oleh Pemerintah Kabupaten/Pemkab Ponorogo. Karena pada jam-jam tertentu pembeli terkendala oleh susahnya mencari lahan parkir kendaraan. “Walau susah cari tempat parkir, orang pasti kesana. Karena rasanya yang maknyus,”  tambah alumni STM Pembangunan Negeri Surabaya ini. (nanang)