Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Walau Surabaya dikenal sebagai surganya penghobi kuliner, namun untuk menu tertentu masih jarang ditemui. Contohnya, bubur ayam dan bubur ikan. Tidak seperti di Surabaya, Jakarta dan Bandung, masyarakat di kedua kota ini menjadikan bubur sebagai bagian dari menu wajib sarapan pagi. Karena itu, keberadaan penjual makanan berbahan dasar beras ini sangat mudah dijumpai disana.

Baru-baru ini, Bambang Iswoyo, warga jalan Gundih mencoba mengembangkan bisnis bubur ikan cakalang di Surabaya. Berbekal resep abon ikan cakalang dari salah seorang keluarga dekatnya, ia membuka tiga lapak bubur ikan cakalang di Surabaya. Yakni, di Gundih, Kranggan, dan Tidar.

Bambang sedang melayani pembeli. (Foto/nanang)

“Saya ingin mengubah image warga Surabaya, bubur identik dengan makanan orang sakit,” kata owner bubur Bais, Bambang Iswoyo kepada bisnissurabaya.com belum lama ini. Memang, pendapat masyarakat ada benarnya. Karena pelanggan pertama bubur ikan cakalang di lapak Bais adalah seorang anak yang membelikan bubur untuk ibunya yang sakit.

Bubur buatan Bambang, menggunakan bahan ikan tuna, cakalang, atau mackarel (tongkol putih) yang segar berkualitas. Untuk 1 porsi bubur dalam kemasan plastik mikrowafe dipatok Rp 10.000. “Harga ini relatif murah dan terjangkau. Saya tidak menjual mahal karena ingin membantu pemerintah mensosialisasikan program gerakan makan ikan,” kata alumni Fakultas Hubungan Internasional Universitas Airlangga tahun 1985 ini.

Banyak pembeli yang merasa cocok dengan bubur buatan Bambang. Banyak sekali yang repeat order (beli kembali), sehingga dia harus menambah jumlah bahan untuk memenuhi lonjakan pengunjung. Sebelum berjualan bubur, Bambang, adalah pensiunan seorang manager di sebuah bank swasta ternama di Surabaya. Dia memang sengaja menyiapkan bisnis jualan bubur untuk masa pensiunnya.

“Uang pensiun Rp 4,5 juta itu tidak cukup. Kata orang 4,5 itu artinya 4 hari makan, 5 hari koma,” tambah bapak 3 anak ini. (nanang)