Gresik Tambah Smelter Tembaga Papua

17

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – RENCANANYA, lima tahun lagi di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di pinggiran kota Gresik, bakal beroperasi industri tambang berat berupa industri peleburan untuk pemurnian dan pengolahan bahan tembaga asal tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) di Timika, Papua. Tambang terbesar di negara kita yang menghasilkan emas, tembaga dan perak. Dari sederetan lokasi industri-industri berat yang diawali oleh PT Semen Gresik, kini kabupaten dan kota tempat bermukim dan dimakamkannya salah seorang Wali Sanga, ialah Sunan Giri itu, benar-benar menjadi kota industri kelas berat dan menengah di Indonesia.

Pada tahun lalu, berulangkali pemerintah mewajibkan PT Freeport Indonesia agar tidak lagi mengeskpor hasil tambangnya secara langsung. Harus ada pabrik untuk pemulihan dan pengolahan hasil tambang itu sebelum diekspor. Pabrik demikian harus diadakan di Indonesia. Bukan lagi hasil tambang itu diolah di lokasi seperti di Jepang dan Amerika. Industri pemurnian dan pengolahan bahan tambang itu disebut “smelter”. Ketika PTFI masih milik perusahaan Amerika (Freeport McMoran), bertahun-tahun pemerintah kita yang juga mempunyai saham tetapi kecil, sudah mewajibkan PTFI mendirikan smelternya di negara kita. Ketika 12 Desember 2018 negara kita menjadi pemegang saham sebesar 51,23 persen, segera juga ditetapkan mendirikan smelter yang berbeaya investasi US$ 3 miliar. Pada waktu itu ada 3 pilihan lokasi smelter besar itu yang juga atas permintaan daerah-daerah yang menginginkan smelter itu di tempatkan di kawasannya. Antara lain, provinsi Papua, provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT dan lain-lian, Namun, sejak semula, PTFI sudah menetapkan Kabupaten Gresik sebagai lokasinya.

Hal itu, dengan pertimbangan, bahwa lokasi smelter yang harus didatangkan beribu ton setiap harinya dari Timika dan pelabuhan untuk ekspor produk smelter tersebut, maka harus ada pelabuhan dengan kedalaman laut yang diperlukan. Kemudian terdapat fasilitas kemampuan daya listrik yang diperlukan untuk peleburan dan lain-lain. Ketersediaan air untuk proses peleburan, ketersediaan tenaga kerja yang bisa mencapai ribuan orang berikut fasilitas perumahan mereka, lalu adanya jaringan komunikasi maupun lalu-lintas darat untuk berbagai kepentingan operasional pabrik itu maupun manusia operatornya. Begitulah Gresik dipilih, dikarenakan apa yang diperlukan tersebut dapat dipenuhi dan sudah tersedia. Dengan demikian, dapat mengurangi besarnya dana pembangunannya.

Menurut Direktur Utama PTFI, Tony Wenas (12/6), sekurang-kurangnya 15 bank yang sudah menyatakan berminat untuk membeayai pengadaan smelter itu. Namun, kini penawaran peminjaman dana bank-bank itu masih dibahas di PTFI. Tidak dijelaskannya, berapa besaran porsi pinjmanan dari perbankan dan berapa porsi beaya PTFI sendiri. Hanya menjelaskan, pihaknya sedang membahas masalah tersebut dengan managemen perusahaan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai pemegang saham baru di PTFI atas nama pemerintah.

Persiapan lahan, perizinan lingkungan sudah dilakukan dan persiapan pembangunan kawasan industri peleburan bahan tambang itu sedang berjalan. PTFI hingga kini sudah mengeluarkan beaya US$ 150 juta. Selain pembangunan smelter, menurut Tony, PTFI tidak banyak membangun lainnya karena sudah tersedia di Kawasan industri JHPE itu. Dia optimis, fase konstruksi bisa dimulai awal 2020 dan smelter dapat selesai sesuai target, yakni 5 tahun sejak terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang diterima bersamaan dengan transaksi investasi oleh PT Inalum pada 2 Desember 2018 lalu.

Apa makna dibangunnya smelter PTFI itu bagi warga Jawa Timur/Jatim?
Meskipun industri atau pabrik smelter itu berperalatan otomatis, namun tenaga kerja manusia masih banyak dibutuhkan. Selain para ahli dan teknisi bisa saja datang dari luar Jatim. Namun, bagaimanapun juga masih dapat menampung tenaga kerja asal provinsi ini. Dengan industri raksasa demikian, juga bakal menambah masyarakat di kota Gresik untuk menyediakan tempat-tempat kos-kosan maupun perumahan untuk dikontrakkan. Tidak luput bertumbuhan jumlah rumah makan atau kedai, membuat kota itu lebih “hidup”.

Yang jelas, situasi malam hari di kota itu bertambah tidak tidur, karena smelter harus beroperasi siang-malam. Belum lagi pelabuhan untuk smelter itu selalu sibuk menerima kiriman hasil tambang ataupun pengiriman produk untuk ekspor produk smelter ke luar negeri. Mudah-mudahan keberadaannya dapat menyerap tenaga kerja di Jatim ini. Semoga. (amak syariffudin)