Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Siapa arek Suroboyo yang tak kenal rujak cingur? Yaaaaa……, makanan khas Surabaya ini mudah dijumpai. Hampir semua kampung di kota Pahlawan menjual makanan lezat yang warnanya hitam ini. Bersama dengan lontong balap, rujak cingur menjadi ikon kuliner kota ini. Konon, isi rujak cingur yang terdiri dari irisan buah mangga, kedondong, mentimun, bengkoang, irisan tahu, tempe, cingur sapi, sayuran rebus, dan disiram dengan bumbu petis yang rasanya pedas ini merupakan simbol dari harmonisasi dan multikultur (keberagaman) masyarakat Surabaya.

Sedangkan rasa pedas mewakili karakter asli arek Suroboyo. Yaitu, keras, tegas, berani, namun sopan dan rendah hati. Untuk mempertahankan serta melestarikan rujak cingur sebagai ikon kuliner Surabaya, setiap tahun Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya mengadakan festival rujak cingur di jalan protocol. Seperti Tunjungan atau Kembang Jepun yang tidak hanya melibatkan aparat pemerintah, tapi juga partisipasi masyarakat luas.

Rujak Cingur Buatan Mella. (Foto/nanang)

Seakan-akan Pemkot Surabaya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa rujak cingur merupakan warisan kuliner yang keberadaannya tetap dilestarikan sebagai bagian kekayaan nusantara. Baru-baru ini fenomena rujak cingur menghiasi media massa lokal maupun nasional. Pasalnya, ada seorang pembeli mencaci maki seorang penjual rujak cingur yang bernama Mella, yang dianggap menjual rujak dengan harga yang tidak wajar menurut ukuran umum.

Dia mematok harga Rp 60.000 per porsi. Padahal di tempat lain harga rujak cingur hanya Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Apalagi, di warung kaki lima pinggir jalan seperti tempatnya berjualan. Mungkin harganya hanya sekitar Rp 10.000 sampai Rp 12.000 saja. Walau dicaci maki, Mella, yang berjualan di daerah Wiguna Timur ini tetap tak bergeming.

Saat aparat kelurahan dan polsek mendatangi lapak Mella. (Foto/nanang)

Dia tetap menganggap harga yang ia patok adalah harga yang wajar. Karena dia menggunakan bahan pilihan. Terutama cingur sapi. Memang, menetapkan harga jual adalah sepenuhnya hak penjual sendiri. Tetapi, sebelum menentukannya, wajib memperhitungkan harga dasar bahan, kemasan, tenaga, sewa tempat dan keuntungan yang diambil.

“Faktor lain, yang perlu diperhitungkan adalah kelayakan dan kepatutan. Jangan sampai dagangannya tidak laku karena salah mengkalkulasi tempat jual dan daya beli masyarakat di sana,” kata penikmat kuliner rujak cingur, Wina, kepada bisnissurabaya.com Rabu (12/6).

Memang, jauh sebelum ramai-ramai harga rujak cingur Mella, yang dianggap tidak wajar, sesungguhnya di Jalan Achmad Jais ada penjual rujak cingur yang bernama Giok Cu (82 tahun). Berjualan rujak cingur sejak tahun 70-an. Dia juga dianggap menjual dagangannya dengan harga yang tidak wajar. Bayangkan, pada saat harga rujak cingur di pasaran sekitar Rp 3.000, dia menjual rujaknya sekitar Rp 15.000. Dan kini rujak cingurnya dihargai Rp 70.000 per porsi.

“Rujak Mama Cu, beda. Selain tempatnya di ruko, rujaknya memang istimewa. Baik petis, tempe, dan cingurnya. Saking legendarisnya pernah ada pembeli dari Singapura yang membeli rujak untuk dibawa ke negerinya,” jelas Wina yang asli Jalan Serayu ini.
Sebenarnya masyarakat pembeli tidak begitu mempermasalahkan harga rujak cingur yang selangit. Asalkan diinformasikan secara jelas kepada pembeli melalu daftar harga yang terpampang di meja atau di dinding.

Masalah harga yang tidak wajar, memang tetap menimbulkan kemarahan. Hal ini ditandai dengan sempat dirusaknya tirai lapak milik Mella, oleh pembeli. Namun, hal tersebut tidak berkembang lebih lanjut karena aparat kecamatan dan polsek segera turun ke lokasi kejadian.

Walau Pemkot Surabaya tidak perlu membuat peraturan yang mengatur tata niaga rujak cingur, namun secara tidak langsung tetap harus bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keberadaan rujak cingur di masyarakat. Hal ini, supaya makanan tersebut tidak menjadi langka karena harganya tidak terjangkau di masyarakat.
“Hendaknya pemerintah kota selalu ingat bahwa rujak cingur adalah ikon kuliner yang harus dijaga kelestariannya,” tambah Wina. (nanang)