Empat Tahun Lagi : Harus Naik Mobil Listrik?

112

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – MESIN-mesin kendaraan listrik kini sudah mulai dikembangkan di seluruh dunia yang maju teknologinya. Model atau prototype mobil-mobil bermesin listrik sudah dicoba dan mulai diproduksi, meskipun banyak yang masih dalam proses percobaan produksi dan pemasarannya. Termasuk mobil-mobil listrik sepenuhnya atau yang separo listrik separo BBM (hybrid) yang ada di Indonesia. Apakah mobil sedan atau bus (percobaan) yang mesin-mesinnya berasal dari luar negeri.

Di negara kita, pimpinan perusahaan otomotif Toyota dan Daihatsu asal Jepang, ketika di Tokyo menyatakan siap berproduksi mobil-mobil jenis Special Uitility Vehicle/SUV dan Multi Purpose Vehicle/MPV sebagaimana yang diproduksi melalui perusahaan Toyota-Astra-Indonesia di Jakarta untuk mobil-mobil bermesin BBM bagi pasar Indonesia dan Asia masa kini.

Kesanggupan itu dinyatakan di hadapan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, dalam pertemuannya dengan direksi Toyota Motor Corporation di Tokyo (31/5). Menurut Menperin Airlangga, salah satu langkah strategis Kemenperin adalah berupaya menyosialisasikan mengenai kesiapan kebijakan regulasinya yang akan segera diterbitkan kepada pelaku industri lokomotif di Jepang itu.

Usai pertemuan itu, Airlangga, menjelaskan, mengenai potensi implementasi dari percepatan electric vehicle dan fasilitas PPnBM yang sedang disusun pemerintah. “Kami komunikasikan dengan pelaku industri otomotif disini,” kata Airlangga Hartarto Jum’at (31/5). Menurut dia, peraturan yang akan dikeluarkan pemerintah Indonesia tentang kendaraan listrik, nantinya diberikan tinggal waktu atau periode transisi selama 2 tahun.
“Kami berharap, pelaku industri otomotif yang ada di Jepang bisa merealisasikannya di tahun 2021 atau 2002,” tambahnya. Sementara itu, Deputy CEO Toyota Corp, Susumu Matanda, memaparkan, dalam memasarkan kendaraan listrik, perusahaannya juga akan fokus dengan pengembangan teknologinya di Indonesia.

“Hal itu, untuk memberikan pelayanan utama kepada konsumen kami, sesuai budaya perusahaan, agar mereka praktis menggunakan kendaraan listrik,” ujarnya. Toyota dan Daihatsu akan memproduksi mobil hibrida di Indonesia pada 2022, berjenis SUV dan MPV. “Kami menilai, kedua jenis tersebut akan lebih diminati konsumen di Indonesia. Kami sedang mempersiapkan produksinya. Perusahaan itu bakal menggandeng pihak perguruan tinggi untuk melakukan penelitian. Hasilnya untuk membuktikan, bahwa mobil hibrida dapat mengurangi konsumsi bensin hingga setengahnya. Ini menjadi salah satu solusi yang cukup realistis,” Demikian Susumu.

Sementara itu, dari London pihak manajemen Toyota menyatakan, perusahaan itu membangun kerja sama dengan perusahaan mobil lain dan industri baterai dalam usaha memenangkan perlombaaan pembuatan mobil listrik dan mobil otonom. Rencana lima tahunannya bekerja sama dengan perusahaan mobil Jepang lainnya, yakni Subaru. Targetnya penjualan mobil listrik bisa berkontribusi 50 persen bagi total penjualan.

Produsen mobil kini bersaing memproduksi mobil-mobil berbahan bakar non-fosil (minyak bumi/bensin), yakni mobil hibrida, mobil listrik dan otonom. Menurut manajemen Toyota, industri itu mengalami transformasi mendalam yang hanya terjadi sekali setiap 100 tahunan. “Baik Subaru dan Toyota diharuskan untuk melakukan pengembangan teknologi yang cepat untuk melintasi spektrum inisiatif yang lebih luqas dari sebelumnya.” Demikian pernyataan mereka. Kedua perusahaan itu menargetkan untuk meningkatkan jumlah kendaraan hibrida dan listrik secara dramatis menjadi 5,5 juta unit pertahun mulai tahun 2025 yang sbeleumnya ditargetkan tahun 2030.

Mungkinkan “melistrikkan kendaraan bermotor” di Indonesia itu bisa terealisir? Apakah itu sebagai kebutuhan bagi publik, ataukah agar negara kita punya “nama” dalam kancah pertumbuhan teknologi dunia? Bagaimana “nasib” mobil-mobil ber-BBM? Masalahnya, pengadaannya bukan semudah membalik telapak tangan.

Sangat banyak masalah teknis dan ekonomis yang harus benar-benar disiapkan. Pemerintah harus merubah isi UU tahun 1960-11970-an mengenai perpajakan tinggi yang dikenakan untuk mobil-mobil listrik, karena dulunya dan hingga kini, masih dari produk impor. Bagaimana secara teknisnya para pengguna mobil-mobil listrik itu harus mengisi kekuatan listrik mobilnya dan dimana memerlukan waktu berapa lama pengisian aliran listrik itu?

Lebih menjadi masalah lagi, bagaimana pengguna mobil itu dalam perjalanan di kota-kota yang sering macet, apalagi perjalanan ke luar kota. Di mana dan bagaimana pengisian bahan bakar listrik dilakukan. Dengan perubahan radikal dari BBM ke “BBL” itu benar-benar dipersiapkan segala unsur teknis pendukungnya. Perlu diamati, sejauh mana minat publik untuk memiliki mobil-listrik itu. Kemudian seajuhmana dapat dipersiapkan fasilitas untuk mendukung operasional mobil-mobil itu. Terutama di stasiun- stasiun pengisian bahan bakarnya sebagai pengganti SPBU yang ada atau SPBU itu mempunyai dua fungsi, untuk BBM dan BBL. Masalahnya, sangat berbeda waktu yang dibutuhkan untuk pengisian bahan bakarnya. Kalau dengan minyak, bisa butuh waktu paling lama sepuluh menit mengisi satu tangki BBM satu mobil. Tetapi mengisi bahan bakar listrik, tidak bisa seperti membiarkan sambaran kilat dimasukkan “tangkinya”. Harus ada ukuran seberapa lama aliran listrik untuk bahan bakar itu. Kalau saja satu mobil terpaksa paling cepat mengisi selama 15 menit (apalagi lebih dari itu), entah selama maupun sepanjang apa antrian mobil untuk keperluan tersebut. Jadi, harus dicari cara pemecahannya. Belum lagi kesiapan berapa ribu stasiun BBL diperlukan di seluruh pinggiran jalan di Indonesia ini. Lalu, masalah tenaga listrik yang dibutuhkan. Jangankan untuk itu, untuk penerangan perumahan penduduk masih ada kawasan-kawasan yang menderita byar-pet ataupun giliran mendapat aliran listrik.

Pendek kata, sangat banyak masalah-masalah teknis (yang juga berpengaruh pada masalah sosial dan ekonomis dalam pemasarannya) yang harus dipikirkan dan diurai sebelum mobil-mobil listrik bersliweran di jalanan. Konsumen yang tertarik memaklumi, bahwa mobil bertenaga listrik jauh lebih hemat dibandingkan dengan yang bertenaga BBM. Meskipun bahaya dapat terbakarnya mesin antara kedua bahan bakarnya itu boleh dikata sama. Yang jelas, pemerintah dapat terbantu dalam mengatasi perusakan mutu pengotoran (polusi) udara, yang terbanyak disebabkan oleh pembakaran BBM yang dilakukan oleh setiap kendaraan bermotor sekarang ini. Kota-kota besar di dunia, terutama di Asia seperti di Beijing, New Delhi, Calcutta, Tokyo dan mulai terasa di Jakarta, juga Mexico City dan lain-lain sudah merasakan sesaknya udara kota untuk pernafasan penghuninya akibat polusi asap itu.

Apakah kendaraan berbahan BBM dilarang beroperasi? Tentu tidak! Mereka masih berjalan sebagaimana biasa. Namun secara bertahap, produksinya dikurangi, termasuk BBM-nya dikurangi supplynya ataupun bertahap dinaikkan harganya. Masalahnya, dunia mulai krisis bahan mineral yang digali, seperti batu bara, minyak bumi dan bahan pertambangan lainnya. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa pengadaan mobil-mobil listrik bagi sesuatu negara (dan dunia) bukan sekedar gagah-gagahan. Akan tetapi ada aspek-aspek lain yang berkaitan dengan lingkungan hidup kita dengan perlindungan terhadap sumber daya alam kita. (amak syariffudin)