Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Jejak multikultur Taufik Kiemas. Mengenal sosok almarhum Taufik Kiemas, tidak bisa dilepaskan dari tradisi keilmuan dan keislaman yang dibangun dalam tradisi keluarga besarnya. Taufik Kiemas dilahirkan dan di besarkan dalam tradisi Masyumi yang berasaskan ajararan Islam.

Pada masa itu, Islam dan Nasionalisme seakan-akan sedang berhadap-hadapan. Tak heran, perdebatan dan pandangan politik ketika itu berlangsung sengit dan keras. Berbagai argumentasi dan rujukan keilmuan di adu dalam rapat-rapat atau sidang-sidang di konstituante. Menariknya dari perdebatan dan perbedaan pandangan politik yang panas tersebut, selalu berakhir penuh rasa persaudaraan, saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Dalam situasi politik yang demikian Taufik Kiemas, lahir dan dibesarkan.
Kemudian saat memasuki bangku perkuliahan, Taufik Kiemas, bergabung dengan GMNI, yang ketika itu “dianggap” sebagai kelompok Bung Karno, yang secara pandangan politik adalah “lawan” partai orang tuanya, Masyumi. Justru disinilah sosok Taufik Kiemas, menjadi menarik.

Sejak pra kemerdekaan, orde lama, orde baru bahkan mungkin sampai saat ini, Islamisme selalu di perhadap-hadapkan dengan nasionalisme. Taufik Kiemas, sejak muda justru meleburkan diri dalam dikotomi tersebut.

“Ketika banyak orang berdebat masalah pluralisme di Indonesia, suami Hj. Megawati Soekarnoputri, ini telah melakukan eksperimen pluralisme itu sendiri,” kata Pengurus Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mahmuddin Muslim.

Dan ketika orang masih sibuk mengkaji tentang ke Indonesia-an dan keislaman, Taufik Kiemas, justru sudah melakukannya. Anak sulung dari Tjik Agus Kiemas, buah perkawinannya dengan Hamzatun Rusjda, sampai menitikkan airmata ketika Taufik Kiemas, memutuskan bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Sebagai anak dari pentolan Masyumi. Airmata dan kesedihan sang ayah adalah taruhan pertama Taufik Kiemas, ketika beliau mencoba melebur dalam dikotomi Islam versus nasionalisme di Indonesia.

Prof Azzumardy Asra, menulis analisa dalam buku, Taufik Kiemas di Mata Tokoh Islam; bahwa bergabungnya Taufik Kiemas ke GMNI, sangat mungkin didorong oleh semangat keislaman beliau guna memperkenalkan atau memperluas jaringan keislaman disetiap lini. Sebagai pengagum Bung Karno, Taufik Kiemas, dalam berbagai kesempatan seringkali mengaku bahwa bergabungnya dia dengan GMNI karena ia ingin memperluas wawasan. Sejak kecil, dia sudah terbiasa mendengarkan penjelasan tentang keislaman dari Ayahnya. Maka, ketika beranjak dewasa, dia merasa perlu memperluas wawasan dan membangun jaringan baru di organisasi yang sama sekali lain dibanding apa yang sering dia dengar dari ayahnya sejak kecil.

Karena itu, ketika meniti karir politik, kegemaran dan naluri mencari wawasan dan membangun networking dengan siapapun, tampak jelas dilakukan dalam keseharian Taufik Kiemas. Seringkali Taufik Kiemas, hadir dan turut serta aktif dalam forum-forum diskusi baik formal maupun informal. Baik satu partai maupun lintas partai, baik partai berbasis nasionalis maupun partai berasaskan Islam.
Pergaulan yang dirintis dan di bangun Taufik Kiemas, sejak muda, membuat langkah-langkah politiknya bisa berjalan dengan baik.

Banyak gagasan dan pandangan politik Taufik Kiemas, yang disampaikan dalam forum-forum diskusi maupun dalam forum resmi kenegaraan sebagai anggota DPR maupun Ketua MPR-RI mendapat sambutan dan dukungan dari berbagai kalangan. Lihat saja, ketika perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara sudah melupakan jalan ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan, Taufik Kiemas, membuat gagasan pentingnya mensosialiasikan kembali semua nilai-nilai tersebut.

“Gagasan ini diberi nama sosialisasi 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Ide dan gagasan tentang sosialisasi 4 pilar diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota MPR RI saat itu,” jelas Mahmuddin Muslim.

Bahkan, jika kita mundur sedikit, ketika pemilihan Ketua MPR RI, Taufik Kiemas, didaulat dan ditetapkan secara aklamasi melalui musyawarah mufakat sebagai ciri dan kultur demokrasi Pancasila.
Penerimaan secara aklamasi oleh berbagai kelompok yang berbeda selain karena ide dan gagasan yang bernas, juga karena pribadi Taufik Kiemas, keseharian yang luwes tanpa pernah membeda-bedakan orang dari pandangan politik, agama, suku dan ras.

Karena itu dalam banyak kesempatan Taufik Kiemas, menyampaikan, bahwa perbedaan yang ada tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk kejayaan bangsa Indonesia. Sehingga Taufik Kiemas, sebagai pribadi, terbiasa menjadi pendengar yang baik. Selain pribadi yang bisa menyampaikan pandangannya dalam kalimat-kalimat yang jelas, tegas, lugas, disertai dengan joke-joke ringan yang menopang semakin mudahnya memahami pandangan, ide dan saran yang disampaikan.

Taufik Kiemas, sering mengatakan “bahwa orang yang tidak mampu mencandai dirinya sendiri tidak akan bisa maju”.
Bagi Taufik Kiemas, canda adalah bagian dari kesehatan mental yang membuat seseorang mampu mengontrol dirinya sendiri. Karena orang yang bertampramen tinggi yang disertai arogansi, biasanya tidak mampu bergaul dengan lingkungan. Demikian disampaikan Taufik Kiemas, pada saat pelantikan Majelis Nasional Korp Alumni HMI thn 2010.

Dalam pidatonya, Taufik Kiemas, juga dengan nada bercanda, “menantang” kader HMI untuk bisa jadi presiden. Kader GMNI sudah pernah jadi presiden dan wakil presiden, kader HMI baru bisa menjadi wakil presiden. Tantangan bernada guyonan ini, diamini oleh seluruh kader dan alumni HMI yang hadir saat itu. Pada kesempatan yang sama, Taufik Kiemas juga diangkat sebagai anggota kehormatan Korp Alumni HMI (KAHMI).

“Mungkin inilah jawaban atas airmata ayahnya ketika Taufik Kiemas, memutuskan bergabung dengan GMNI,” tambah Mahmuddin Muslim.

Langkah Taufik Kiemas, meleburkan dikotomi Islam dan nasionalis semakin menemukan bentuknya ketika pemilu 1999 PDI Perjuangan sebagai Partai pemenang. Namun, pada pemilu 2004, suara PDI Perjuangan jeblok. Penurunan suara PDI Perjuangan secara drastis ini terjadi, selain karena ulah kadernya yang banyak terlibat pelbagai kasus hukum, juga berkembang rumor bahwa PDI Perjuangan partai yang tidak mengakomodir kepentingan umat Islam.

Sebagai sosok yang suka mendengarkan pendapat orang lain, Taufik Kiemas, juga sosok yang suka melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Kritikan PDI Perjuangan sebagai partai sekuler dan “anti Islam” dijawab oleh Taufik Kiemas, dengan mendatangi masjid, mushola, surau, pesantren dan organisasi islam serta tokoh-tokoh Islam. Taufik Kiemas, sering terlihat hadir di masjid besar maupun masjid di kampung-kampung maupun dalam gang sempit dan kumuh.

Perjalanan dan hasil mendengarkan keinginan dan aspirasi umat ini, Taufik Kiemas, berdiskusi dengan tokoh-tokoh organisasi Islam seperti Muhammadiyah (Prof. Din Syamsuddin dan Buya Syafii Maarif) Nahdlatul Ulama (KH. Hasyim Muzadi dan KH. Said aqil Siradj), Akbar Tanjung sebagai tokoh KAHMI serta tokoh-tokoh lainnya. Atas saran dan masukan para tokoh Islam, Taufik Kiemas, berinisiatif mendirikan Baitul Muslimin Indonesia sebagai organisasi Islam yang se-asas dan se-aspirasi dengan PDI Perjuangan. Pendirian Baitul Muslimin Indonesia ini sebagai upaya untuk melengkapi pokok-pokok pikiran Bung Karno yang “diadopsi” oleh PDI Perjuangan sebagai “bintang penunjuk” dalam perjuangan politik dan gagasan. Ide keberagaman dan menghargai perbedaan sebagai anugerah dari Allah SWT, juga dituangkan dalam Baitul Muslimin Indonesia.

Taufik Kiemas selalu mengingatkan Baitul Muslimin Indonesia tentang api revolusi Islam yang menjadi kekuatan inti revolusi Indonesia yang digelorakan Bung Karno. Pancasila digali Bung Karno dari shaf Hindu, dan disempurnakan oleh api revolusi Islam.

Kita mengambil apinya, bukan debu atau arang revolusi Islam. Oleh karenanya, Indonesia harus bisa menjadi “rumah besar” bagi semua golongan, kelompok, bukan saja bagi umat Islam tetapi juga menjadi tempat berteduh yang nyaman bagi agama lain. Demikianlah Taufik Kiemas, mengaplikasikan Islam rahmatan lil alamin yang hidup dan bergerak melalui Baitul Muslimin Indonesia.

Untuk itu, Taufik Kiemas, selalu berpesan agar Baitul Muslimin Indonesia harus banyak membangun pergaulan, jejaring, dengan siapa saja. Karena bagi Taufik Kiemas politik itu adalah berteman. (nanang sutrisno)