Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Lebaran identik dengan silahturahmi dan kunjungan ke sanak family. Biasanya, selain menyediakan menu makanan untuk menjamu para tamu, tuan rumah juga menyiapkan uang baru pecahan Rp 2.000 sampai Rp 5.000 untuk diberikan kepada anak-anak yang berkunjung ke rumahnya. Rupanya, pedagang jasa penukaran uang baru saat Idul Fitri, menjadi bisnis baru.

Tradisi memberikan uang baru yang membudaya sejak puluhan tahun ini, menjadi peluang tersendiri. Mereka menangkap peluang yang menggiurkan ini dengan membuka jasa penukaran uang baru. Sejak dua minggu menjelang lebaran bisnis musiman ini menjamur di beberapa ruas jalan di Surabaya.

Seperti, di Jalan Pahlawan, Veteran, Bubutan, Diponegoro, dan Frontage Ahmad Yani. Bahkan, di dekat Kantor Bank Indonesia/BI Jalan Indrapura juga banyak berderet jasa penukaran uang dadakan. Adalah Mustain (38 tahun), warga daerah Bulak Banteng Surabaya, yang beberapa tahun ini mencoba mendulang peruntungan dengan membuka jasa penukaran uang baru di Jalan Pahlawan.

Sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB dia melayani orang yang ingin memanfaatkan jasanya. “Biasanya, beberapa hari mendekati lebaran saya buka sampai malam hari,” Kata Muhammad Mustain, kepada Bisnis Surabaya.

Mustain menyediakan uang baru dengan pecahan Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, hingga Rp 20.000. Untuk jasa penukaran uang ini, biasanya lelaki ini mengambil keuntungan Rp 10.000 sebagai imbalan jasa. “Dalam setiap penukaran sejumlah Rp100.000, saya dapat keuntungan Rp 10.000. Jadi penukar harus membayar Rp 110.000,” jelas lelaki berdarah Madura ini.

Untuk pecahan Rp 20.000, Mustain mengambil keuntungan lebih tinggi, yakni sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Dengan alasan, karena jumlahnya lebih banyak. Sehingga, para penyedia jasa penukaran uang mematok Rp 120.000 untuk setiap penukaran Rp 100.000 pecahan uang Rp 2.000.

Untuk Ramadhan 1440 H, Bapak dua anak ini mengaku ada peningkatan pendapatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga dia tidak hanya bisa membelikan baju untuk istri dan kedua anaknya, tetapi juga bisa membelikan oleh-oleh untuk keluarganya di Bangkalan saat  mudik nanti.

“Alhamdulilah, tahun ini saya bisa membelikan mukena dan cincin untuk ibu saya,” tambah Mustain. Jasa penukaran uang sejenis juga tampak di Kota Gresik. Disini mereka mangkal di sepanjang jalan utara perempatan menuju Pabrik Petrokimia Gresik. Dan juga di sepanjang Jl. Wahidin Sudirohusodo sampai barat masjid Agung Gresik.

Mereka beroperasi  sejak pagi hingga malam hari. Keuntungan yang diambil tidak jauh berbeda dengan jasa penukaran yang dilakukan di kota Surabaya. Untuk pecahan 2 ribuan yang satu bandelnya Rp 200 ribu  mereka mengambil keuntungan Rp 20.000. Khusus untuk pecahan seribu rupiah jasa keuntungan yang mereka ambil agak mahal sedikit yaitu Rp 15.000. ”Yaaaa…., karena pecahan seribuan ini dapatnya agak sulit mas, dan terbatas,” ujar Tohirin, salah satu jasa penukar uang asal Duduk Sampean Gresik ini.

Menurut Tohirin hasil dari bekerja menjadi jasa penukar ini cukup lumayan. Dia enggan menyebutkan besar nominalnya. “Yang jelas bisa untuk nambah semaraknya lebaran saya lah mas,” tambahnya. Ternyata memilih menjadi orang yang menawarkan jasa penukaran ini juga butuh modal. Artinya untuk mendapatkan sejumlah uang baru pihaknya harus punya uang dulu. Baru setelah ada uang ada pengepul yang menyuplai uang baru tersebut. “Ya demi bisa mendapatkan keuntungan modalnya sebagian saya kredit pada seseorang, dan mengembalikannya harus memberi bunga mas,” paparnya.

Namun setelah mengembalikan kredit, masih ada sisa. Bila banyak orang yang membutuhkan uang baru hasilnya lumayan. (nanang/sam)