Surabaya, (bisnissurabaya.com)  – Kinerja PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Cabang Surabaya terdongkrak paska Pemilu dan libur panjang lebaran. Hal ini dapat dilihat dari antusias masyarakat ikut andil menjadi bagian dari bidang perdagangan berjangka.

Hal ini disampaikan Kepala Cabang RFB Surabaya, Leonardo, menyikapi dampak paska Pemilu 2019 dan libur panjang lebaran.

”Antusias masyarakat untuk ikut andil menjadi bagian dari bidang perdagangan berjangka ini, justru semakin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan libur lebaran dan paska Pemilu lebih berdampak positif terhadao kinerja RFB Surabaya,” kata Leonardo, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Sabtu (1/6).

Ia menjelaskan, kinerja RFB Surabaya selama kuartal I/2019 melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun 2018 dan 2017. Volume transaksi perdagangan berjangka pada Maret 2019 tercatat sekitar 160.000 lot. Pada periode yang sama 2018, lebih dari 80.000 lot dan periode yang sama 2017, tidak beda jauh dengan 2018.

”Yang jelas transaksi perdagangan selama kuartal I/2019 untuk Cabang Surabaya naik dua kali lipat jika dibanding periode yang sama tahun 2018,” ujarnya.

Untuk kegiatan di kuartal kedua, Leonardo menegaskan, demi pelayanan kepada investor maka semua produk tetap akan jual. Sampai saat ini emas masih menjadi produk yang paling dicari investor.

”Jadi fokus kami di kuartal kedua ini adalah memasarkan produk emas/gold. Kenapa demikian karena emas harganya stabil dan cenderung naik dari tahun ke tahun. Selain itu, tingkat likuiditasnya juga tinggi. Sehingga sangat mudah jika ingin menjual atau membeli emas kapan saja,” paparnya.

Apakah ada target-target baru yang dibidik RFB Surabaya? Leonardo kembali menegaskan pihaknya akan terus mengenalkan perdagangan berjangka komiditi ini ke seluruh lapisan masyarakat. Sehingga semakin banyak orang yang mengenal transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi. Dengan demikian, Indonesia tidak cuma menjadi penghasil produk fisik seperti kopi, sawit, tambang emas dan lain-lainnya, tetapi juga menjadi basis harga komoditi dunia.

Dengan banyaknya investor yang melakukan perdagangan kontrak berjangka komoditi dalam jumlah yang tinggi, kata Leonardo, akan menjadi sarana pembentukan harga. Sehingga masyarakat penghasil komoditi fisik petani kopi, sawit dan lain-lainnya tidak perlu khawatir dengan kondisi saat panen harga menjadi murah.

”Selain itu, perdagangan kontrak berjangka dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sarana melindungi usaha melalui pengalihan resiko fluktuasi harga komoditi/aset tertentu untuk menjamin kepastian dan kelangsungan usaha jangka panjang (lindung nilai),” pungkas Leonardo. (bw)