Meriahkan Lebaran dengan Bijak dan Hati-hati

23

Surabaya (bisnsisurabaya.com) – SEJENAK mari kita sisihkan hiruk-pikuknya pergulatan politik praktis dampak pemilu presiden/wakil presiden oleh Jokowi-Ma’ruf Amin di pihak yang menang dan kekalahan pihak Prabowo Subianto- Sandiaga Uno yang tidak diakuinya. Kalau sekedar wacana sebagaimana halnya proses komunikasi-politik, tidaklah jadi masalah. Akan tetapi, penolakan pihak Prabowo-Sandiaga sudah melalui gerakan fisik dan diiringi gerakan perusuh dalam bentuk demonstrasi dan penyerangan/perusakan pada 21-22 Mei 2019 yang terbuka dan tertutup didukung oleh sejumlah yang menyebut dirinya “politikus” itu. Tindakan yang membuat ‘miris’ hati rakyat yang tidak punya sangkut paut secara langsung dengan persaingan politik itu. Padahal, beberapa hari lagi Idulfitri 1440 H bakal tiba.

Lazim bila menghadapi lebiaran selalu disambut dengan kemeriahan dan kesibukan banyak kalangan masyarakat untuk memuliakan maupun memeriahkannya. Bagi yang mematuhi adat istiadat nusantara, berziarah ke makam leluhur atau kerabat dekat selalu dilakukan di Hari Raya itu. Kemudian berkunjung ke rumah para orang tua atau leluhur yang masih hidup serta kerabat dekat. Menghormat kepada yang sepuh dan bersilaturahmi dengan yang usia sesama. Adat semacam itu dan makan opor ayam dengan ketupatnya sering pula masih mengiringi sliaturahmi lebaran. Kesemua adat atau kebiasaan tersebut masih dipertanyakan di hati kecil masyarakat. Apakah kelompok politikus yang kalah itu sudah bisa menerima ataukah masih tidak bisa menerima hasil kekalahan dalam berdemokrasi-konstitusional melalui pemilu yang lalu itu? Artinya, tak ada lagi adat saling memaafkan.

Namun, kita sisihkan dulu kecemasan hati menghadapi ulah mereka yang bisa merugikan kehidupan rakyat. Kita perhatikan para pegawai negeri sipil, anggota TNI/Polri, para pensiunan dan tentu saja para karyawan BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta, yang menerima THR (tunjangan hari raya) untuk sekedar dimanfaatkan dalam memeriahkan Idulfitri 1440 H ini. Kalau dikatakan nilai duit THR itu “kecil” (terkecuali bagi karyawan BUMN/perusahaan swasta), tentu saja. Tetapi namanya “tunjangan hari raya”, adalah sekedar membantu untuk keperluan berlebaran.

Namun, tidak sedikit juga karyawan sesuatu badan usaha yang tidak menerima THR, meski dalam UU Perburuhan, karyawan seperi itu juga berhak atas THR. Alias, perusahaan tersebut,– besar atau kecil,– mewajibkan memberi THR. Adalah pelanggaran undang-undang itu apabila tidak memberikannya. Sebab, sampaipun majikan atau kepala rumah tangga juga diminta untuk memberikan THR secukupnya kepada para Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang dipekerjakannya.

Memang banyak sudah pesan atau nasehat bagi penerima THR. Jangan diobral-obral untuk hal yang tidak berguna. Kalau memang digunakan sesuai dengan kebutuhan guna berlebaran, barangkali memang itu tujuannya. Namun, berbijaklah untuk pemanfaatannya dengan pengeluaran uangnya secara hati-hati. Tidak dilakukan dengan tanpa perhitungan. Penerimaan kecil tetapi kepingin membeli sesuatu yang besar, jelas tidak mencukupi. Kecuali terpaksa duit THR itu digunakan untuk keperluan lain. Tentu pesan demikian tidak berlaku untuk mereka yang semestinya mendapat THR, tetapi tidak menerimanya karena badan usaha itu ternyata tidak mampu memberikannya, atau malahan sulit hidup tetapi matipun tak mau. Atau badan usaha itu abal-abal.

Kadangkala, kebijakan dalam memberikan THR kepada karyawannya sebagai “ukuran” keberadaan dan status badan usaha atau majikan dari para karyawannya. Memang sering THR dikeluhkan pelaku bisnis yang mempunyai karyawan, akan tetapi dalam manajemennnya, perhitungan untuk THR sudah dirancang ketika menyusun anggaran untuk badan usahanya.

Selamat memanfaatkan THR bagi penerima tunjangan tersebut. Semoga tidak terjadi keributan politik yang bisa merusak stabilitas tatanan sosial, politik, perekonomian serta kesejahteraan rakyat kita. Kesemuanya perlu berpikir dan bertindak secara bijaksana. Selamat Iduliftri 1440 H. Maaf lahir batin. (amak syariffudin)