Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masih dipandang sebelah mata. Karena, produk rumahan itu jauh dari standard. Baik bahan baku, pengolahan produk, maupun cara pengemasannya.

Berpijak dari hal tersebut, Dinas Perdagangan Kota Surabaya mengirim pelaku UMKM yang tergabung dalam Pejuang Muda (PM) dan Pahlawan Ekonomi (PE) untuk belajar standarisasi produk ke Sampoerna Enterpreneurship Training Centre (SETC) Prigen, Senin (27/5).

Beberapa pelaku UMKM peserta PM dan PE tampak antusias memanfaatkan program kunjungan tersebut. Diantaranya, UMKM Keripik tahu walik, pia ireng, bumbu bebek Ma Arka, ayam bakar bundar, makaroni achisa.

Sebagian peserta pelatihan. (Foto/nanang)

Di SETC, para penggiat usaha UMKM mendengarkan dengan seksama materi standarisasi pangan yang disampaikan pakar ilmu dan teknologi pangan Universitas Brawijaya (Unibraw).

Standarisasi produk makanan meliputi pengembangan mutu pangan, standar bahan, proses, dan lebeling. Selain itu komposisi bahan harus sesuai data petunjuk.

“Untuk lebeling produk harus tercantum komposisi protein, lemak, natrium, kalori, dan karbohidrat,” kata pakar ilmu dan teknologi pangan Unibraw, Profesor Dr Teti Estiasih, kepada bisnissurabaya.com.

Ia menyatakan, pelaku UMKM makanan wajib menjaga kualitas dan keamanan produknya. Setiap produk harus memenuhi unsur aman, layak, dan memberi manfaat.
“Selain itu harus aman dan bebas dari kimia, fisika, biologi, mikro biologi,” jelas dosen berhijab ini.

Selain tidak boleh terkontaminasi racun pada saat pengelolaan dan pengemasannya, kata dia, produk harus bebas dari kontaminasi silang yang diakibatkan proses produksi yang tidak bersih.

“Contohnya produk tahu, jika proses produksinya bersih maka akan tahan lama,” tambah Prof Teti.

Dengan mengikuti pelatihan ini, diharapakan pelaku UMKM dapat menghasilkan produk makanan yang berkualitas, halal sesuai syariah, kemasan standar dan menarik serta memiliki label nutrisi yang benar.

Karena, setiap label nutrisi yang terpasang dapat menunjukan kualitas produk, memupuk kepercayaan konsumen, menjaga kualitas produk, dan sebagai sarana promosi. (nanang)