Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Nasib seniman Surabaya mengenaskan. Sejumlah seniman dan anak jalanan yang tergabung dalam Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) beraksi di sepanjang Jalan Kayoon Surabaya, tepatnya depan bebek Abunawas Senin (27/5) kemarin.
Seniman dan anak jalanan tersebut menyatu dalam kegiatan bagi-bagi takjil ramadhan 1440 H yang mengusung thema melawan arogansi satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Surabaya yang tindakannya sangat arogan kepada seniman dan anak jalanan.

“Kami tidak bisa mentolerir aksi kekerasan dan arogansi Satpol-PP kepada anggota kami,” kata Ketua KPJ Ringgo, kepada bisnissurabaya.com. Ceritanya, pada Kamis siang, (23/5) sekitar pukul 13.00 WIB, pemain angklung yang bermain di sekitar traffic light Jalan Gunungsari, Sawunggaling menyalurkan bakat seninya, dilarang beraktifitas di sana.

Mereka tidak hanya dilarang main, tetapi beberapa juga dipukul dan dijambak. Bahkan, Satpol PP mengambil alat musik mereka. “Saya berharap kepada pimpinan Satpol-PP kedepan jangan ada lagi tindakan kekerasan, arogansi terhadap seniman, dan anak jalanan yang menyalurkan bakat seninya,” jelas Ringgo.

Ia menyatakan, kegiatan mereka dilarang tidak apa-apa, tetapi harus diperlakukan sopan dan santun. Karena mereka itu manusia, bukan hewan. Selain itu, memanusiakan manusia adalah cermin pemerintahan beradab dan berahlaq.
Ia berharap, Walikota Surabaya memberikan solusi kepada seniman dan anak jalanan yang terlantar. Sebab, mereka ini juga warganya yang mendukung Bu Risma jadi Walikota hingga dua periode. Mereka punya hak yang sama di mata hukum, minimal dikasih tempat untuk menggali potensi sesuai profesi mereka.

Penasehat KPJ Surabaya Hafidz menambahkan, pihaknya sengaja mengumpulkan anak jalanan dan seniman yang tegabung dalam KPJ, karena adanya arogansi Satpol-PP yang kinerjanya kasar dan kejam dalam menindak suatu permasalahan di jalanan. Hal ini, bertentangan dengan pasal 34 ayat 1 UUD 1945.

Menurut dia, anak-anak seniman jalanan, itu dilindungi negara, yang mana kutipan isinya adalah : “Fakir miskin dan anak-anak jalanan yang terlantar dipelihara oleh negara”. “Saya tidak mau ada kejadian seperti itu lagi, mereka juga manusia yang butuh perhatian pemerintah. Mereka bukan perusuh atau perusak, mereka manusia yang ingin menyalurkan seni sekaligus mengais rejeki sesuai bidangnya. Jika Satpol-PP Surabaya punya hati baik mereka akan memberikan solusi bukan arogansi,” tambah pria yang akrab dipanggil Abu Nawaz ini. Kasi Operasional Satpol-PP Surabaya, Joko Wiyono, saat dikonfirmasi lewat whatsapp terkait kejadian ini belum bisa menjawab, namun pesannyanya sudah dibaca. (nanang)