Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Program sosial pabrik rokok. Bagi perokok, pasti mengenal rokok djie sam soe, sampoerna kretek, sampoerna a, sampoerna u mild, dan marlboro. Yaaaa……, itulah beberapa produk yang dihasilkan pabrik rokok Sampoerna.

Pabrik rokok Sampoerna tidak hanya dikenal sebagai salah satu industri rokok tertua di Indonesia,  tetapi juga merupakan industri rokok terbesar dan terkemuka di Indonesia.

Pabrik Rokok PT HM Sampoerna Tbk. didirikan keluarga Liem Seng Tee pada 1913, hingga hari ini mengoperasionalkan 5 pabrik yang tersebar di Surabaya, Pasuruan, Malang, Probolinggo, dan Karawang. Hingga hari ini, sekitar 65.000 karyawan yang bekerja di tempat tersebut.

Perkembangan bisnis PT HM Sampoerna menunjukkan performa yang bagus di 2018, berhasil  menguasai pangsa pasar industri rokok sebesar 33 persen, dengan volume penjualan 101, miliar batang. Diekspor ke-43 negara di dunia,  dan membukukan total pajak untuk negara sebesar Rp 70,5 triliun.

“Industri tembakau sedang menuju pengembangan berbasis sains dan teknologi. Ini merupakan bagian penting dari bisnis Sampoerna,” kata Presiden Direktur Sampoerna Mindaugas Trumpaitis kepada bisnissurabaya.com beberapa hari yang lalu.

Mindaugas Trumpaitis, memandang sangat penting dukungan pemerintah  bagi penguatan penerimaan pajak, cukai, ketenaga kerjaan, investasi, usaha kecil menengah, petani tembakau dan cengkeh.

Sebagai industri yang menyangkut harkat hidup orang banyak, PT Philip Morris Indonesia selaku pemilik saham terbesar PT HM Sampoerna Tbk memandang penting Sustainable Development Goals (Pencapaian Pembangunan Berkelanjutan), dengan  driving operational excelence (mendorong keunggulan operasional), managing our  social impact (mengelola dampak sosial), dan reducing our environmental footprint) mengurangi jejak lingkungan.

Berbagai implementasi kegiatan bidang pendidikan dilakukan. Antara lain mengalokasikan Rp 87 miliar untuk pengembangan pendidikan,  pengadaan rumah pintar di Lombok, 5.000 anak kursus bahasa Inggris selama 4 bulan di rumah kreasi.

Di bidang genderpun, PT HM Sampoerna juga melakukan  comunity learning group untuk 750 petani perempuan di Lombok, kewirausahaan UKM untuk 50 ibu rumah tangga di Pulo Gebang, pemasaran digital dan pengembangan bisnis untuk 250 perempuan.

“Kami juga memiliki Sampoerna Enterpreunerhip Training Centre (SETC) yang diresmikan 2007 yang memiliki fasilitas seluas 27 hektar, sudah melakukan 90 riset pertanian terpadu,” jelas Mindaugas.

Tempat tersebut sudah dikunjungi 96.000 orang, melalui SETC, PT HM Sampoerna sudah  melatih 46.000 peserta, dan mendampingi 3.330  orang di 79 kota/ kabupaten di seluruh Indonesia.

“Ada juga Sampoerna Retail Comunity yang dibentuk 2008 yaitu program pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di sektor retail. Saat ini memkliki jaringan 105.000 toko kelontong yang tersebar di 34 provinsi. Dari 105.000, sebanyak 1.000 orang pedagang telah kami latih,” jelas  Mindaugas.

Tidak hanya itu, PT HM Sampoerna melalui sampoerna rescue juga hadir dalam program penanganan bencana.  Lebih  dari 200 penugasan misi kemanusiaan telah dilakukan, dan lebih dari 100.000 orang merasakan manfaatnya. (nanang)