Pebisnis Asing Lebih Percaya Stabilitas Kita

19

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – TIDAK dinyana, para pebisnis asing lebih mempercayai stabilitas perekonomian kita. Terutama dalam pasar perdagangan asal asing dan domestik. Dalam rapat koordinasi perekonomian yang diselenggarakan 23 Mei, sehari setelah geger demonstrasi dan kerusuhan yang dilakukan oleh para pengikut Pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno siang hingga malam pada 21-22 Mei 2019 di depan kantor Bawaslu (Jl. MH Thamrin) dan Markas Brimob di Petamburan dengan hasil 9 orang tewas, puluhan luka-luka dan sedikitnya 250 perusuh di tangkap. Namun terbukti, bahwa pada tanggal-tanggal tersebut investor asing justru melakukan pembelian bersih Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1,7 triliun pada kurun waktu 21-22 Mei.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Wardjijo (23/5) beranggapan, bahwa kepercayaan investor asing masih sangat terjaga terhadap fundamental perekonomian Indonesia. Sedangkan tekanan yang terjadi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dam nilai tukar rupiah dalam waktu sepekan lalu yang dinyatakannya rendah, adalah dampak peningkatan dari perang dagang AS dengan China. Namun menurutnya, berbeda dalam “perdagangan” di pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana terjadi inflow (aliran masuk dana asing) sekiyar net-buy Rp. 1,7 triliun. Kenaikan pemasukan dana tersebut dipengaruhi oleh harapan perbaikan ekonomi domestic ke depan, dan juga tentu saja harapan imbal balik hasil yang cukup baik. Demikian Perry. Malahan dia meyakinkan, bahwa meskipun imbal hasil memang menurun karena prospek obligasi yang meningkat, namun imbal hasil SBN tenor 10 tahun, masih dipandangnya cukup kompetitif, yakni sekitar 7,95 persen dibandingkan dengan imbal hasil di negara-negara sepadan (peers).

“Saya kira aliran masuk dana asing yang berlanjut menunjukkan kepercayaan pasar dari asing dan domestic,” ujar Gubernur BI itu. Kepercayaan investor asing meskipun situasinya dibuat kacau oleh kelompok Paslon yang tidak mau mengakui kekalahannya, karena para investor asing tersebut percaya kemenangan pihak Jokowi-Ma’mun Amin, apa yang telah diperbuat oleh Presiden Jokowi-Jusuf Kalla berikut Kabinet Kerjanya lima tahun lewat dalam melaksanakan stabilitas ekonomi dan mempertahankan kepercayaan pihak luar negeri atas pelaksanaan pembangunan dan pemerintahannya.

Mungkin terjadi keguncangan ketika demonstrasi di depan Kantor Bawaslu di Jalan MH Thamrin terjadi sejak pagi hingga malam pada 22 Mei lalu, sehingga di pasar spot nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp14.520 terhadap nilai dolar AS. Tetapi ketika demo yang sesuai tujuannya masih berlangsung, yakni pada pukul 15.00 Wib di pasar spot rupiah kembali menguat ke Rp 14.497 per dolar AS. “Saat terjadi aliran keluar (outflow) dana asing, tentu kami akan intervensi, yang tentunya di pasar valas dan membeli SBN di pasar-sekunder sejak awal Jnauari hingga saat ini sebesar Rp 19,47 triliun dalam year to date/ytd,” ujar Perry Wardjijo.

Pada 24 Mei, IHSG dibuka menguat 9.88 poin, tembus di atas 6000 kembali.
Dari kondisi perputaran keuangan di pasar-uang nasional yang tidak lepas terkait dengan kondisi pasar-uang internasional seperti itu, apabila dikaitkan dengan perkembangan politik yang menyangkut hasil Pemilihan Presiden yang diancam demonstrasi dan kerusuhan, namun para investor asing mepercayai pemerintah kita bisa mengatasi krisis demikian. Dengan demikian, mereka justru memborong pembelian SBN. Apabila sekilas kita pelajari kondisi pasar keuangan di saat aktivitas , apalagi krisis politik, di negara-negara apakah Asia sampaipun di Eropa, Amerika Tengah dan Selatan, apalagi negara-negara di benua Afrika dan Timur Tengah, sudah pasti terjadi keguncangan pasar keuangan mereka. Hal demikian sekurang-kurangnya menimbulkan keraguan investor keuangan dari luar negerinya untuk berinvestasi dananya di negara bersangkutan. Mereka akan bersikap hati-hati dan biasanya menunggu sampai dengan tanda-tanda stabilitas pasar keuangannya bisa dianggap stabil. Stabil itu dalam pengertian dapat memberikan keuntungan bisnis baginya.

Informasi yang diberikan oleh Gubernur BI tersebut memang sering kurang menarik bagi beberapa pelaku bisnis dalam negeri. Pada hal, apa yang disampaikan tersebut memberikan kejelasan,bahwa kondisi perekonomian kita dalam hiruk-pikuk aktivitas para pelaku politik dalam negeri adalah apa yang sering disebut-sebut, yakni dalam keadaan yang “kondusif”. Perkembangan perputaran uang dalam kehidupan perekonomian kita sehari-hari dalam dunia perdagangan berskala besar ataupun kecil, sampaipun untuk kebutuhan lainnya dari setiap manusia, seperti untuk keperluan makan,

kesehatan/kebugaran, pendidikan dan lain-lain, juga bisa ditinjau kemungkinannya dari dapat dipenuhi didasarkan kemantapan keuangan di masyarakat negara bersangkutan. Ukuran untuk mengetahui stabilitas keuangan sesuatu negara itu tidak lain adalah sejauhmana kepercayaan global terhadapnya. Kembali lagi, sikap investor asing membeli bersih Surat Berharga Negara (SBN) meski ada harapan kelompok yang kalah dalam Pilihan Presiden bakal terjadi keributan (khaos) sektor perekonomian/keuangan negara, ternyata tidak terlaksana. Malahan terjadi kepercayaan dari investor global. Itu difahami mereka, bahwa perputaran perekonomian di pasar keuangan dan perdagangan kita dalam kondisi stabil atau “kondusif”. Semoga tetap demikian. (amak syariffudin)