Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sukses dengan produk kebaya, desainer Banyuwangi, Mira Sartika inimerambah produk busana muslimsyar’i. Tepatnya sejak tahun 2016. Yakni dengan membuat produk busana muslim readytowear lewat brand Fatimah Syar’i. Yang merupakan produk secondbrandbyAlmira Bridal Moslem Syar i.

Ramadhan tahun ini, Mira pun menyediakan berbagai busana muslim syar’i. Dengan model desainnya yang khas yakni simpel dan elegan.Mengedepankan kualitasproduk menjadi hal utama. “Model busana muslim tahun ini saya buat lebih glamor. Dengan penambahan payet dan broklat,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Karya desainer Mira Santika dalam Festival Kebaya 2019

Sejak awal, dirinya lebih banyak bermain dengan bahansifon.“ Bahan sifon ini selain nyaman dipakai juga ringan dan memberi kesan elegan,” tambahnya.Pilihan warna yang dia tampilkan pun lebih banyak pada warna warna pastel yang lembut. Untuk desain busana muslim syar’i i ini pemakaian bahan sifondengan model layer masih banyak dia tampilkan. Selain aktif mengikuti berbagai even pameran dan fashion show, pihaknya aktif melakukan promosionline.

“ Sebagian juga saya titip ke butik temen,” ucapnya. Permintaan busana muslim ini cukup banyak. Dengan dibantu puluhan tenaga kerja, per bulan pihaknya bisa memproduksi 300 s.d. 400 potong busana.Dengan perolehan omset di atas Rp 100 juta per bulan.

Saatramadan, ada peningkatan permintaan. “Saat ini persiapan untuk moment Lebaran, sudah saya kerjakanjauh jauh hari. Sehingga pasramadansayabisa fokus ke ibadah,” ucapnya. Selain menyediakan busana muslim  readytowear, Almira Bridal Moslem dan Syari ini juga melayani jasa pembuatan busana muslim, baju baju pengantin dan gaun. Termasuk melayani jasa  sewa gaun.

Saat ini produk busana syar i menjadi produk terlaris. Selaindari segi kualitas, desain yang dia bikin pun terbatas. “Paling banyak dalam satu desain saya bikin tigasampai lima item,” ucapnya.

Pasar lokal masih mendominasi. Meski permintaan dari luar kota tetap mengalir.Untuk menggali inspirasi dalam berkarya, Mira lebih banyak melakukanproses ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) Menjadi desainer sejatinya bukan  cita cita bunda dua anak ini. Lulus sekolah dia justru tertarik menjadi pegawai.  Namun, garis takdir berkata lain.

Dunia jahit sudah dia akrabi sejak kecil. Mira mewarisikeahlian menjahit dari sang bunda. Saat remaja, Mira coba coba merintis usaha jahit dengan membuat pakaian kasual. “Awalnya saya berjualan baju  keliling,” kenangnya.

Setelah menikah, bermodal satu mesin jahit, dirinya makin fokus menekuni usaha jahitan dengan membuat produk kebaya. “Alhamdullilah dari sini orang mengenal brand Almira,” ucap wanita low profil ini.Dalam usaha, modal utama kata wanita yang tergabung dalam komunitas desainer Banyuwangi ini, yakin dan kreatif. (tin)