Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Harga bawang putih belakangan menjadi sorotan karena melambung tinggi. Bahkan, di beberapa tempat tercatat harga bawang putih hampir mencapai Rp 100 ribu per kilogram (kg).

Hal ini sontak membuat baik pedagang maupun pembeli jadi menjerit. Bahkan bulan Ramadhan 2019 ini harga jual bawang putih mengalami kenaikan di seluruh wilayah Indonesia.

Kenaikan harga tersebut tidak tangung-tanggung hampir mencapai 100rb/kg di wilayah Jambi dan Bandung, selain di Jambi dan Bandung di beberapa kota lainnya juga mengalami kenaikan seperti di wilayah Banten Rp.60.000/Kg, DKI Jakarta harga jual bawang putih mencapai 70.000/Kg, Surabaya harga jual bawang putih mencapai Rp 60.000/Kg, di Medan dan NTT harga jual bawang putih Rp. 70.000/Kg.

Ketua Forum Komunikasi Pengusaha dan Pedagang Pangan (FK3P) Aminullah,SH, M.H

Peningkatan ini telah terjadi sejak awal tahun 2019 dikarenakan tidak adanya pasokan impor yang masuk.
Selama ini, kebutuhan bawang putih masih dipenuhi melalui impor. Sebab, pemerintah sendiri baru melakukan penanaman bawang putih di tahun 2017 dan hasil benihnya tidak bisa digunakan bahkan tidak laku.

Menanggapi hal itu, Ketua Forum Komonikasi Pengusaha dan Pedagang Pangan (FK3P) Aminullah,SH, M.H mengatakan lonjokan harga bawang putih ini terjadi disebabkan, terlambatnya
menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) kepada 8 importir dengan kuota sebasar 115.765 ton yang disetujui SPI-nya oleh Kementerian Perdagangan sejak 15 April 2019 lalu.

Menurut Amin, sebenarnya kenaikan harga bawang putih sejatinya tidak perlu terjadi, apabila Kementerian Pertanian RI tidak menunda menerbitkan RIPH yang semestinya terbit pada Desember 2018 paling lambat Januari 2019. Namun, Kementerian Pertanian RI hingga akhir maret belum juga menerbitkan RIPH. Dan anehnya Kementerian Pertanian RI baru menerbitkan RIPH pada 15 April 2019.

Sehingga tidak ada supplay bawang putih ini yang mengakibatkan harga bawang putih melambung tinggi di beberapa wilayah di Indonesia.

“Kami sangat menyayangkan atas tertundanyan RIPH tersebut, terlebih Kementerian Pertanian RI hanya menerbitkan RIPH kepada 8 importir saja, dengan kuota yang pantastik sebesar 115.765 ton,” kata Amin ini kepada bisnissurabaya.com

Tak hanya itu, ketimpangan praktik yang tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2017 itu dalam importir diwajibkan menanam bawang putih sebesar 5 persen dari kuota impornya. Tapi, ketentuan ini tidak diwajibkan dalam impor yang dilakukan Bulog.

“Intinya, kami minta jangan ada diskriminasi pelaku usaha diharuskan menanam 5 persen sesuai jumlah kuota. Nah itu harus konsisten dari Kementan,” tegasnya.

Sehingga, pada kasus ini, ia tidak menitikberatkan terkait adanya pelanggaran dalam proses impor bawang putih ini. Namun, lebih ke wilayah kebijakan.

Dalam kondisi seperti ini Kementerian Pertanian RI memutuskan meminta importir menjual harga bawang Rp. 25.000/Kg, padahal keputusan ini merupakan keputusan yang merugikan masyarakat/konsumen.

” Masyarakat itu sebenarnya bisa membeli bawang putih dengan seharga Rp 18.000/Kg. Pasalnya berdasarkan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) harga bawang putih di negara asal dan biaya masuk, sampai pelabuhan dan biaya truck sampai gudang distributor hanya Rp.14.006/Kg sampai 15.000/Kg. Tapi kenapa konsumen masih membeli bawang putih dengan harga mahal?,” seru Amin.

Dengan demikian, pihaknya menduga ada persaingan usaha yang tidak sehat yang berlindung dibalik kebijakan RIPH Kementerian Pertanian RI dan menyebabkan terjadinya kelangkaan dan kenaikan harga bawang putih yang terparah sejak tahun 2013 silam itu.

Untuk itu, Forum Komunikasi Pengusaha dan Pedagang Pangan (FKP3), meminta Presiden Joko Widodo mengevaluasi kebijakan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura. Dan mendorong Komisi Pengawas Persaingan Usaha melakukan investigasi atas naiknya harga bawang putih yang merugikan masyarakat.

“Faktanya, proses impor berjalan tidak sesuai rencana. Jangan sampai dibuat aturan yang bikin konsumen rugi, sementara tidak ada pelaku usaha dalam negeri yang dilindungi,” imbuh dia.

Adapun langkah Kementerian Pertanian RI melakukan Operasi Pasar (OP) seperti di Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Wonokromo Surabaya, sangat tidak efektif untuk menurunkan harga bawang putih pasaran.(ton)